Konversi .JFIF ke .JPG dengan Python

Halo, assalamualaikum. Pada artikel ini yang dibahas berbeda dari biasanya πŸ˜€ Sebenarnya, dulu saya sering melakukan hal yang sama saat sekolah. Jadi ketika ada satu part yang bermasalah dicatat di blog ini untuk dokumentasi. Kalau dokumentasi ini dirasa berguna juga buat yang lain, ya alhamdulillah πŸ˜€ Berhubung saat ini sedang sekolah, mari digalakkan kembali.:D Jadi, ini ceritanya, seharian kemarin saat menjalankan program selalu error, errornya bisa berganti-ganti, terakhir sampai tengah hari ini saya hampir menyerah πŸ˜€ *padahal dulu saat pertama bisa ngoding bisa nemu solusi dari error sampai seminggu. Tak apa lah ya πŸ˜€ Singkat cerita error saya berawal dari kesalahan ekstensi yang tidak seragam dalam satu direktori, sehingga tidak bisa diakses fail tersebut. Mau edit satu per satu kok rasanya makan waktu, yasudah yuk cus dikoding saja πŸ˜€

Pernah nemu error semacam ini gak? Terakhir error yang saya terima seperti ini.

Continue reading

Rekomendasi Aplikasi untuk Keseharianmu Saat Berada di Jepang

Assalamualaikum, sahabat Arumsha. Wah tak terasa sudah bulan September, tandanya di Jepang ini sudah mulai persiapan untuk tahun ajaran baru di bulan Oktober nanti. Menurut informasi juga, Jepang sudah mulai membuka border untuk turis meski masih dengan prosedur yang ketat. Selain itu, visa kunjungan sementara juga sudah berlaku. Pun saya juga menerima informasi kalau beberapa rekan akan melakukan kunjungan dinas ke Jepang. Ah senang sekali ya bisa berkunjung ke Jepang, welcome! Buat kamu-kamu yang baru pertama kali masuk ke Jepang dan sama sekali tidak bisa bahasa Jepang, bagaimana nih bisa survive di awal-awal kedatangan ke Jepang? Nah, pada artikel kali ini, saya akan mengupas aplikasi-aplikasi yang bisa kamu gunakan untuk membantu kamu beraktivitas di Jepang berdasarkan pengalaman pribadi menggunakan Android mobile. Apa saja aplikasi itu? Yuk, simak bersama.

Continue reading

Lulusan S2 Ingin Jadi Dosen: S3 Dulu atau Cari Homebase dulu?

Assalamualaikum sahabat Arumsha. Bulan Agustus blognya vakum, karena pemilik blog sedang sibuk melakukan eksperimen riset untuk menghadapi data primer yang sangat menggemaskan πŸ˜€ Mohon dimaklumi ya. Baiklah, pada kesempatan kali ini, saya akan coba menjawab pertanyaan yang kerap menjadi dilema saat lulus S2 dan bercita-cita ingin menjadi dosen. Apakah yang sebaiknya dilakukan? S3 langsung atau mencari homebase terlebih dahulu. Atau apa sih sebenarnya yang perlu dipersiapkan sebelum menjadi dosen. Anyway, buat yang mau jadi dosen, sudah tahu apa belum kerjaan dosen itu apa saja sih? Jika belum, boleh mampir sini dulu ya πŸ˜‰

Baiklah, artikel ini ditujukan untuk yang bercita-cita menjadi dosen (berarti untuk yang belum pernah pengalaman menjadi dosen ya πŸ™‚ ) tentunya atau ada yang mau mencoba peruntungan di dunia dosen? πŸ˜€ Boleh juga πŸ˜€

Jadi, profesi dosen ini adalah sebuah profesi yang bisa kita persiapkan semenjak mengambil jenjang pascasarjana. Sejauh yang saya pahami, aturan pasti akan berubah dari waktu ke waktu, namun untuk mekanisme pengembangan jenjang karir dosen itu hampir tidak signifikan perubahannya, kecuali syarat-syaratnya :D. Pasti ya, semakin hari semakin adanya perkembangan, jika kemudian syaratnya semakin berat tak lain karena dengan tujuan menjaga atau bahkan meningkatkan kualitas. Ini wajar terjadi, termasuk yang kemudian sekarang lowongan dosen dari kampus-kampus ternama (baik negeri maupun swasta) hanya menerima dosen dengan kualifikasi lulusan S3 atau sedang S3. Sebagai contoh, lowongan dosen tetap non PNS di Universitas Indonesia (https://recruitment.ui.ac.id/#, lihat di bagian Daftar Pekerjaan) yang baru-baru ini diluncurkan, sebagian besar posisinya membutuhkan lulusan S3. Ya, jangan dibandingkan sama UI dong Bu πŸ˜€ Bukan membandingkan, hanya saja kalau mindset bahwa syarat ini merupakan syarat minimal yang bisa dipenuhi calon dosen, akan jadi lebih baik, bukan? Kita jadi bisa terus mengembangkan kapasitas diri kita untuk memberikan yang terbaik.

Dulu zaman saya saat S2 (2012-2015), dosen sudah tidak diperbolehkan S1, sehingga dosen-dosen yang masih S1 dihimbau untuk segera melanjutkan ke S2. Bukan berarti bahwa dengan kualifikasi terakhir S2 tidak bisa menjadi dosen, masih banyak kampus yang menerima kualifikasi pendidikan terakhir S2 saat ini. Oke oke, sekarang coba kita lihat bersama beberapa berita dan beberapa referensi berikut.

Continue reading

Bagaimana Cara Mencari Supervisor S3?

Hai semuanyaπŸ‘‹, assalamualaikum. Kali ini saya akan coba untuk berbagi terkait bagaimana mencari supervisor/promotor/pembimbing S3. Artikel ini ditulis berdasarkan pengalaman pribadi atau pengalaman yang saya dengar langsung dari rekan-rekan yang pernah berjuang dalam perjalanan menuju mahasiswa strata 3.

Seperti yang kita pahami, bahwa jenjang S3 ini unik dan spesial. Jenjang tertinggi dari tahapan menjadi mahasiswa yang tidak jarang menguras mental dibandingkan dengan perjalanan akademik S3 itu sendiri. Oleh karena itu, memilih atau mendapatkan supervisor/pembimbing yang tepat adalah salah satu faktor yang dapat berpengaruh terhadap studi kita. Jenjang S3 berbeda dengan S1 dan S2 yang bisa jadi mulai intens dengan pembimbing dalam kurun waktu 1-2 tahun atau lebih tepatnya satu sampai dua semster di masa perkuliahan. Jika pada jenjang S3, mulai awal perkuliahan hingga 3-4 tahun ke depan akan berhadapan dengan orang yang sama. Jadi, memang berharap untuk dapat supervisor/pembimbing yang nyaman buat mendukung studi lanjut kita adalah hal yang perlu diperjuangkan.

Nah, bagaimana cara mencari supervisor yang “kita banget” nih?πŸ˜€

Continue reading

Private School atau Public School?

Haloo readers setia blog Arumsha. Assalamualaikum..

Masih ada sambungannya dengan artikel sebelumnya ya? Jika berkenan untuk berkunjung dan membaca, silakan menuju tautan berikut. Memilih sekolah, mulai daycare, di sini tidak serta merta milih, daftar, masuk. Meskipun itu di private school. Jadi, semua harus terdaftar di balai kota terlebih dahulu dan tidak mudah mendaftarnya karena beberapa berkas penting harus disiapkan sebelumnya. Soal perlu bisa Nihongo atau tidak, sepertinya tidak perlu-perlu amat, karena di balai kota sini sebenarnya ada translatornya. Kalau kami, alhamduliah semua dibantu prosesnya oleh sekretaris sensei kami langsung yang menggunakan full Nihongo.

Apa saja dokumen yang perlu disiapkan?

  • Akta nikah kedua orang tua. Kalau belum ada terjemahannya, silakan diterjemahkan.
  • Buku vaksin anak dari Indo dibawa.
  • Residence permit yang sudah diurus sebelumnya (diberi alamat tinggal)
  • Buku tabungan dengan akun bank Jepang. Jadi nanti akan ditanya, anak di sini tanggung jawab siapa, karena pemerintah akan memberikan subsidinya via rekening yang dimaksud.
  • But well, buka akun bank ini tidak bisa sehari jadi gaes πŸ˜…. Pasalnya perlu punya nomor HP. Sementara, pesan nomor HP di Jepang itu juga tidak mudah, tidak bisa langsung jadi juga, masih butuh waktu paling cepat 24 jam untuk sampai ke alamat di residence permit. Selain itu butuh stamp identitas kita. Butuh waktu gaes.
  • Health insurance card. Ini dapatnya setelah mengurus residence permit. Kartunya itu juga baru datang beberapa hari kemudian.
  • Formulir yang buanyak yang harus diisi kebanyakan dalam Nihongo. Yosh!
  • [Nanti kalau tiba-tiba ingat ada tambahan, saya tambahkan di sini]

Pilihan sekolah

Pemilihan sekolah ini pertimbangannya adalah dekat orang tua kerja atau dekat rumah tempat tinggal. Dari balai kota itu ada semacam buku yang isinya semua sekolah beserta kuotanya dan diberikan kepada kita. Jadi kita bisa mengamati kuota yang ada di sekolah yang mau dituju, apakah penuh, apakah ada yang masih kosong. Berhubung N itu datang di bulan April maka sudah terlambat untuk masuk tahun ajaran baru, sehingga semua kuota public school sudah penuh. Jadi, pertimbangkan juga hal-hal ini jika mau menyekolahkan anak. Kita diminta memilih 3 pilihan sekolah sesuai preferensi. Dua pilihan pertama kami jatuh ke public school, selanjutnya karena public school penuh semua maka private school masuk ke pilihan ketiga. Iya, tetap harus masuk dalam daftar sekolah pilihan. Jadi kapan pun ada yang kosong di public school, bisa pindah langsung dengan follow up berkala informasi di balai kota. Jika kedua orang tua sama-sama bekerja, maka menjadi prioritas khusus dalam kuota ini (high priority). Prediksinya sih baru bisa masuk public school next year.

Sebenarnya, ada public school yang kosong untuk umur N saat ini, tapi jauh lokasinya, sekitar 30 menit PP menggunakan sepeda. Kalau transportasi umum? Sungguh di sini tidak efisien. Lebih terasa jauh lagi kalau nggowes saat cuaca dan suhu ekstrim seperti musim panas atau musim dingin.

Salah satu karya N di sekolah pas Hari Ayah di sini.

Jadi…

Tetap enak di public school karena pertimbangan harga πŸ˜…. Kalau secara kualitas di Jepang ini sudah standar, jadi memang kebanyakan Japanese ya di public school. Kalau di public school lebih banyak temannya. Tapi tetap terbatas kuota. Satu kelas bisa cuma 9-10 anak. Gemes banget pas visit ke public school diajak room tour dengan kepala sekolahnya ditemani sekretaris sensei di lab kami. Kawaaiii anak-anaknya. MasyaAllah..

Baiklah, sekian dulu ya informasi sekilas tentang public atau private school di sini. Semoga bermanfaat. See you πŸ’•

Aktivitas N di Nursery School

Lihat kambing di kampus. Salah satu aktivitas yang ada di nursery school N terkadang jalan-jalan di sekitar sekolah. Salah satunya pernah jalan-jalan bersama sensei dan teman-temannya ke Okadai daigaku -tempat YahBun studi-, untuk melihat dan memberi makan kambing di kampus.

Kambing yang dipelihara kampus, Okayama daigaku


Berbeda dengan di Indo, daycare di sini seperti sekolah. Anak-anak akan dikelompokkan berdasarkan usianya. Berhubung N masih di private school saat ini, jadi belum terlihat jelas perbedaannya. Ya, karena di private school jumlah anaknya lebih sedikit. Namun, saat visit ke public school (yang N harapannya pindah ke sini kalau sudah ada kuotanya), kelompok anak berdasarkan usia itu jelas. Akan tetapi, pada dasarnya kedua tempat tersebut sama: punya aktivitas yang jadwalnya sudah tersusun rapi. Misal, jam 9-10 snacking time, jam 10-11 playing time, kemudian lunch sampai tidur siang hingga pulang itu sudah terpola dengan teratur.

Bagaimana proses adaptasinya?

N pertama kali masuk daycare bertepatan dengan proses sapih saat usia kurleb 21 bulan, dan ke Okayama di usia 26 bulan. Jadi, kalau ada yang tanya bagaimana penyesuaian pas pertama masuk ke sekolah sini, N butuh waktu 2 hari. Dua hari pertama dia nangis pas datang, pulangnya ceria. Hari pertama itu, kepala sekolahnya yang langsung turun tangan gendong N dan mengajak N bermain sampai nangisnya benar-benar reda. Kebayang ya, dia sendiri yang bukan Japanese kemudian langsung dilepas begitu, butuh adaptasi. Paham banget kondisi N. Kalau di Indo masih ya dulu pertama kali N masuk daycare ya ditunggui dulu, lama-lama pelan-pelan bisa ditinggal. Dulu awal-awal ya butuh waktu, sekitar 1-2 minggu penyesuaian. Jadi, saya bilang rencana Allah jauh lebih indah, karena waktu itu saya yang harus berangkat dulu meninggalkan N dan Ayahnya sementara. Dengan penyesuaian daycare di Indo ternyata secara tidak langsung memiliki dampak yang cukup kuat, terutama dari kemampuan bersosialisasi.

Enaknya kalau di private school lebih fokus, 1 anak bisa 1 sensei. Gak enaknya ya mbayarnya yg jgn ditanya πŸ˜†. Tentunya kondisi ini berbeda dengan di public school. Kalau pas visit di public school kapan hari, 1 sensei maksimal pegang 3 anak. Sebenarnya kondisi ini mirip dengan daycare N di Indo, satu terapis, maksimal 3 anak.

Jadi, hari ketiga dan seterusnya, N pergi dan pulang ke/dari sekolah dengan senang hati. Sampai sering ikut da-da da-da sama ortu temennya yang sama-sama sedang menjemput. Alhamdulillah πŸ’• Kadang pas weekend, pas mau ajak N keluar jalan-jalan bilangnya “N mau berangkat ke sekolah” πŸ˜… “Ya, besok Senin nduk, sik Sabtu iki” 🀭 Oh iya, jadi, pas masuk ke nursery school pertama kali ada masa adaptasi, yang mana 4 hari pertama itu 2 jam, 4 hari berikutnya 3 jam dan seterusnya hingga penuh waktu dengan penambahan durasi berkala. Tentunya dengan seperti ini membuat adaptasi semakin ringan prosesnya.

Sama seperti yang saya temui di Indo, daycare di sini, bisa mulai umur 0 bulan, dan apakah half time atau full time itu tergantung kondisi dari orang tuanya. Apakah kedua orang tuanya sama-sama bekerja full time atau hanya salah satu saja yang bekerja. Kalau kedua ortu full time, maka anak otomatis full time juga.

Bagaimana dengan tuition fee?

Terkait tuition fee (kalau di public school) juga tergantung dari penghasilan ortu. Ada subsidi untuk anak dari pemerintah Jepang? Ada, pemerintah juga memberikan ini untuk setiap anak yang tinggal di Jepang. Ini juga tergantung dari penghasilan ortu dan usia anak. Ingat gaes, ini subsidi alias bantuan. Jadi, sebenarnya printilan kebutuhan sekolah di sini itu bisa dibilang buanyak, apalagi dihadapkan dengan 4 musim yang berbeda tentu dari pakaian saja sudah melahap sebagian besar dari subsidi tersebut. Ya, yok opo rek, jer basuki mawa beya, kabeh gegayuhan mbutuhake ragat. Bener, nggak? Hehe. Yasudah, diusahakan saja, InsyaAllah ada jalan. Kalau usia sekitar 2 tahunan yang dibutuhkan mulai training pants, popok, set baju (3 pasang), apron, sapu tangan, cover futon, futon, selimut, tas anak, dll.

Baiklah, sekian informasi yang semoga bermanfaat. Barangkali buat persiapan juga yang mau sekolah di sini. Sekalian mengisi tulisan di blog yang sepertinya vakum karena ownernya sik repot πŸ˜…. Terima kasih sudah berkunjung. See you!

Pengalaman Masuk ke Jepang di Masa Pandemi

Assalamualaikum, Jepang! Alhamdulillah, akhirnya kaki ini menginjakkan kaki juga di tanah Jepang. Ini adalah jadwal terakhir setelah 3 kali perubahan jadwal keberangkatan. Pertama saat 7 Desember, waktu itu varian Omicron dikabarkan masuk, dan sehingga 30 November 2021 Jepang langsung gerak cepat menutup border kembali. Selama tahun 2021, Jepang membukan border hanya di sekitar bulan November, itu pun tidak berlangsung lama, mungkin kurang lebih 3 minggu. Iya, Jepang sangat ketat sekali dalam hal ini, sekalinya masuk, aturannya berlapis. Di sisi yang lain saya bersyukur, itu artinya, saya masih bisa bersama dengan keluarga terutama anak yang masih belum genap 2 tahun. Meski berhasil proses sapih N lebih cepat, tapi rasanya sungguh berat meninggalkannya, sehingga dengan demikian saya masih punya waktu bersamanya lebih banyak dan lebih banyak menyiapkan mental saya. Emak-emak can relate, ya πŸ™‚

Continue reading