Siapa Kita

Alhamdulillah, pada akhirnya menginjak juga tahun baru 2018. Alhamdulillah, tahun 2017 telah terlewati dengan segenap pencapaian yang  telah terwujud maupun belum terwujud karena kebaikanNya. Biarkan skenarioNya berjalan dengan kita mengoptimalkan segala sesuatunya untuk menggapai apa yang belum terwujud. Ada kesibukan awal tahun sangat padat dilakukan dalam satu minggu belakangan, baik urusan kantor ataupun urusan di rumah, yang membuat saya menunda untuk membuat satu artikel yang telah saya targetkan sebelumnya  (targetnya sih pas malam tahun baru, tapi yo weslah 😀 ). Okelah, yang penting sekarang sudah nulis kan ya 😀

Masih dengan terkait impian dan mewujudkannya, beberapa hari setelah tahun baru, saya agak tergelitik dengan salah satu postingan kawan baik saya, sekaligus travel mate saya saat di Eropa dulu Ria Dhea. Dhea merespon salah satu postingan dari tirtoid terkait masalah kepo yang menjalar seperti lemari partikel yang terkena lembab berbulan-bulan, finally “jamuren” di kehidupan sosial kita. Fenomena ini bahkan sudah sangat biasa sekali di lingkungan kita. Lingkungan yang terkadang cenderung suka membandingkan self-achievement dengan standar orang lain dalam mencapai impiannya. Why do not you do that? Why do not you do this?  Alih-alih orang yang tidak begitu mengenal kita yang menyampaikan. Rasanya tinggal masuk telinga kanan keluar telinga kiri saja, tinggal menguatkan mental saja 😀 Kadang beberapa lidah ada yang ganas, jadi tinggal siap-siap menjadi baja agar waktu dan kerja lebih produktif dengan tetap menggemakan vibra positif dalam diri. Tiap orang mempunyai zona pribadi, selama itu tidak membawa kerusakan bagi lingkungan, seharusnya tak perlu hebring banget pengen tahu ini itu. Siapa kita?

Postingan @riadhea di Facebook pada 4 Januari 2018

Sebenarnya pun juga tidak sepenuhnya salah sih,kalau kata orang sih, terserah yang punya lidah mau kek mana. 😀 Ya memang, tergantung bagaimana kita mengelola hati dan pikiran kita kalau menurut saya. Mana orang yang harus di-keep mana yang harus dihindari atau di-kick. Kita juga berhak untuk harus atau tidak menanggapi lawan bicara kita yang menurut kita sendiri sudah tak nyaman. Buat apa dilanjutkan dan buat apa harus bertahan kalau hal tersebut bukan membuat kita bergerak maju tapi malah mundur. Hal mengerikan adalah dengan hal-hal tersebut, membuat kita berada dalam circle sempit yang dihantui pemikiran orang atau penilaian orang tentang diri kita. Tapi sayangnya kalau udah kepo banget ya mereka kagak bakal ngerti posisi kita, keadaan kita, atau entahlah saya kok bingung kadang mereka ini tujuannya apa. 😀 kalau cuma have fun  kok ya sayang gitu rasanya 😀

Ada beberapa orang yang pikirannya selalu positif dalam melayani kekepoan orang lain, dianggap sebagai sebuah masukan. Nah itu kalau yang menyampaikannya dengan wajar ya dan memang orang yang tahu dengan kita. Pasalnya kadang memang banyak yang di luar kewajaran. Kenal dekat juga kagak, ngerti banget masalah kita juga kagak, ngerti keseharian kita juga kagak, ngerti usaha-usaha yang kita lakukan juga kagak, namun kalau memberi masukan layaknya “menggurui” sampai tahap yang paling parah ya ujung-ujungnya merasa dirinya benar sendiri setelah mengetahui pendapat kita melakukan itu atau memiliki keputusan itu. Agak susah menerima penjelasan kita, sedemikian sehingga membuat kita jadi errrrr. Ya, saya pernah mengalami, sekali dua kali menanggapi kekepoan orang lain, yang akhirnya yo tak berujung, dan merasa membuang waktu yang mungkin bisa saya alokasikan dengan hal produktif lainnya. Biasanya ujungnya akan mengorek kekurangan kita yang dibandingkan dengan parameter kehidupannya. Susah berempati karena dia tidak sepenuhnya mengalami keadaan yang sama.

Eh tapi jangan disempitkan makna menghargai privasi orang lain dengan tidak peduli lingkungan lho ya. Mobil tetangga mogok, tetangga dorong mobil sendirian, kita gak bantu dengan dalih gak mau ikut campur urusan orang lain. Anak tetangga nangis tiap hari karena bentakan orang tuanya dan kita sebagai tetangga sebelah rumah mendengarnya jadi tak nyaman lantas tidak mau tahu. Padahal kalau dibiarkan bisa mengakibatkan kekerasan yang lain yang tidak diinginkan. Atau temen sekamar sudah tidak makan tiga hari karena belum dapat kiriman uang dari orang tuanya, terus kita cuek bebek. Bukan, bukan seperti itu. You know your place-lah. Paham situasi dan kondisi. Kita disuruh belajar nih sama Allah untuk bisa membedakan mana yang zona privasi, mana yang harus dipedulikan.

Saya sepakat dengan pendapat Dhea, jika memang seseorang  tidak/belum cerita tentang hal-hal pribadi artinya masih mempunyai zona pribadi yang tidak ingin diganggu, sesuatu yang privat yang mana orang lain tak perlu tahu. Mungkin saya yang dulu juga seperti ini, dan mungkin pula buat orang lain tulisan saya ini adalah untuk saya. Saya mohon maaf ya, seiring pengalaman-pengalaman yang sudah saya alami baik di dalam dan di luar negeri telah mengajarkan saya sedikit-banyak hal, bahwa kepo tak berfaedah tersebut tidak baik. Saya sendiri merasa “kurang kerjaan” dan hal-hal tersebut perlahan saya pelajari untuk memangkasnya. Ya maafkan saya ya kalau saya pernah annoying dengan kepo-kepo urusan pribadi kamu. Terus terang masih akan dan terus belajar untuk tidak kepo privasi orang 😀 Memang santapan renyah kepo ini, luar biasanya godaannya, kita harus setrong dan terus belajar 😀 Because all of us are life learner, right?. Biasanya saya mulai melipir kalau ada bu-ibu yang doyan nggosip. 😀 😀 😀

Biasanya sih tergantung siapa juga yang bertanya dan tujuannya apa. Biasanya arah pembicaraan sudah ketebak kok dari awal 😀 Kalau misalnya orangnya asik menurut kita karena pengalamannya mirip atau hampir sama dengan kita, sehingga kita bisa memetik pelajarannya, gitu sih gak masalah. Tujuannya terbaca, endingnya kelihatan. Berbeda dengan orang yang sotoy, agak risih memang dengan yang sok tahu, arahnya kemana-mana. Sini bahas apa, situ responnya apa. Sudah deh, END saja 😀  Sekalipun itu teman baik atau kawan baik saya, kalau misalnya dia tidak cerita hal pribadinya berarti memang dia belum ingin zona pribadinya dimasuki “orang lain”. Kalaupun mereka bercerita, itu artinya kita diberi kepercayaan dan sebaik-baik kawan tak perlu mengumbarkan hal yang privasi ke ranah publik. Sewajarnya saja. Good friends are good listeners. Saya coba kutip statement mbak Dewi Nur Aisyah:

“A true friend doesn’t have to understand your decisions, they just have to respect them”

Berseberangan pendapat itu sudah biasa, teman baik pun juga bisa sering berbeda pendapat. Tetapi selama dia bisa menghargai keputusan kita atau mendukung yang terbaik bagi kita, mereka layak masuk dalam list teman baik. Ngasih saran monggo, tapi kalau mekso  itu menyebalkan gaes. Saya pernah bertengkar hebat dengan salah satu kawan baik saya, namun itu ternyata pembelajaran buat kami, bahwa memang kita tak bisa memaksakan kehendak, kita hanya butuh saling memahami. Alhamdulillah, sampai sekarang hubungan kami tetap terjaga, tetap mendukung satu sama lain, tetap saling mengingatkan, tetap saling menguatkan jika salah satu ada kesusahan. MasyaAllah, saya jadi rindu dengannya, tahun 2017 kemarin ketemu dengannya cuma sebentar. Dia jauh dengan saya, namun saya merasa dekat, begitu juga dengannya. Semoga persahabatan kita sampai jannahNya. Aamiin.

“Kalau tidak mau dikepoin ya tidak perlu posting aneh-aneh atau update apapun dalam sosial media, apalagi yang menyangkut masalah pribadi”. Saya SEPAKAT!. Untuk update info di dumay harus selektif, filteringnya harus pas, kalau tidak pas tidak bisa di-segmentasi antara haters  atau lovers. 😀 *apaan mbahas masalah  segmentasi segala. 😀 Kalau udah tidak update apa-apa di dumay, terus doi tiba-tiba dapat info dan kepoin kita ya terus gimana ya? Ajakin ngomong dia aljabar linear saja, agar pola pikirnya bisa diintegralkan dan bisa menyelesaikan masalah negara ini 😀 #wopoae 😀 Kayaknya semakin kesini menulisnya agak lelah :D, waktunya berakhir. Biarkan doi kepo gaes, biarin saja, tak usah ditanggepin 😀 itu cara paling simpel 😀 Kalau kamu suka yang instan cara itu bisa dicoba. Dibilang cuek juga biarin saja. 😀 Wes gitu saja ya.

Jadi, ini murni dari pendapat saya ya gaes, so far dibikin santai saja, kalau tidak bisa santai cerita ke teman yang tepat, atau paling mudah Allah-lah sebaik-baik teman curhat kita gaes. Tertutup rapat rahasianya, aman, terkendali, InsyaAllah ada solusi. Sebaik-baik tempat bersujud dan menengadahkan tangan meminta perlindunganNya, agar kita dijauhkan dari sifat yang tercela. Aamiin. Kalau saya ada yang salah diingatkan ya gaes. Kalian memang terbaek gaes 😀

Udahan dulu ya, sementara segitu saja postingan kali ini. Semoga yang baik bisa diambil, kalau merasa tak guna yaudah tak usah dibaca. Terlanjur ya? Yasudah, ikhlaskan 😀 *peace. Ini tulisan ini buat ane juga gaes, buat pengingat diri sendiri. 🙂

See you, selamat tidur

@Malang malam yang dingin, baiti jannati

2 thoughts on “Siapa Kita

  1. Yap benar sekali! Malah kemarin pas aku posting artikel ginian ada salah satu rekan kerja comment, “kepo saia bingit tuh”, seakan2 bangga dengan hobinya itu. Dalam hati mak2 jaman now emang sukanya ngurusin orang. Gimana kalau urusan pribadi dia seperti urusan rumah tangganya kita kepoin sampai detail? kalau dia gak merasa risih yaaa, she is totally crazy! 😅
    Nih gara-garanya ada komunitas CELUP (Cekrek lalu upload) jadi ada postingan per-kepopers ginian di Tirto Id. Dan komunitas itu emang bikin resek. Kebanyakan emang menganggu privasi orang. Kalau dipikir-pikir emang bener artikel di tirtoid. TOP dah dan pas banget 👍.

    Aku setuju dgn kalimat mbak tidak ingin tahu urusan orang bukan berarti kita acuh tak acuh ketika ada yang perlu bantuan. That’s humanity. Seperti menawarkan bantuan ketika org itu tertimpa musibah. Pandai-pandailah baca situasi dan kondisi.

    Setiap orang punya zona pribadi yang gak pengen dishare kan ke orang lain. Dan kepo tidak selalu berupa pertanyaan tapi pernyataan juga bikin risih 😒😅
    Misalnya nih ya ada temen, “kamu kok suka banget traveling, mbok ya uangnya buat nyicil sesuatu kayak aku nyicil buat isian rumah beli dispenser, magic com, seprei dll pokok yang berupa perabot rumah tangga”.
    Prinsip orang beda2 gaes, masak iya aku menghabiskan seluruh tabungan ku cuma buat jalan2 (lagian masak nyicil sesuatu yang nilainya turun dari tahun ke tahun kek dispenser, magic com dll 🤣). Then, she is blamed me that I’m totally wrong. It because I dissagree with her argument. Uggh!!! Nyebelin kan hahahaha (jadi curhat 😂)

    Aku bisa tau situasi kalau teman-teman terdekatku lagi ada masalah (firasat kali ya, kek ada yang menyentil gitu). Kadang aku suka beri mereka semangat atau mengajak ngobrol bentar tanya kabar gimana. Menunggu sampai mereka cerita langsung, karena takut menganggu zona pribadi mereka.

    Manusia itu makhluk sosial, yang tetap butuh orang lain. Tapi balik lagi sama diri kita sendiri, intinya kita perlu belajar mengendalikan rasa keingintahuan kita tentang kehidupan orang, apalagi (pasti) ntar ujung-ujungnya berghibah 😅. Pada akhirnya enggak satu orang aja yg tahu masalah kita tapi akhirnya kita jadi sumber ghibahan (mbulet ae). Opo maneh nek di share dumay. Kacaaooo!
    Aku pun juga begitu karena tidak ada manusia yang sempurna 😄.

    • @riadhea Benaaarrr 😀 bertanya dan ingin tahu, pas sudah dijawab disalah-salahkan karena apa yang dilakukan tidak sesuai dengan yang pernah dia lakukan ya Dhe? 😀 Iya, tak enak rasanya digituin 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published.