Lebaran 1439 H

Setelah kepulangan dari Turki di bulan Mei, beberapa hari setelahnya bulan Ramadhan menyambut kedatangan kami. Alhamdulillah masih dipertemukan dengan Ramadhan. Saat bulan Ramadhan adalah bulan untuk berproses, jadi tak ubahnya dengan bulan-bulan berikutnya, jam kerja tetap berjalan, namun alhamdulillah lingkungan kerja mendukung untuk beribadah lebih intens. Bulan Ramadhan kemarin cukup berat cobaannya di 10 hari terakhir, cobaan untuk mengindahkan hawa nafsu sendiri dari rasa malas dan kantuk dalam mentadaburi Al-Quran dan kandungannya. Segala maaf yang berujung penyesalan hingga datanglah hari kemenangan. Sedih rasanya Ramadhan berlalu dengan cepat. Ingin rasanya menikmati keteduhan malam-malamnya kembali. Hanya berharap semua amal dan ibadah dan segala kebaikan diterima oleh Allah. Taqoballallahu minna wa minkum. Semoga kiranya diri ini bisa sampai ke Ramadhan berikutnya dengan tetap menjaga istiqomah amalan-amalan yang ada di bulan Ramadhan.

Lingkungan kerja sangat kondusif dengan kegiatan-kegiatan yang beragam di bulan Ramadhan, yang membuat diri yang masih sering lalai dengan duniawi ini jadi tersiram cahaya. Tahsin setiap Selasa, Kajian muslimah setiap Jum’at siang, understanding Al-Quran setiap Selasa dan Jumat siang sampai sore, kajian ba’da dhuhur, dan kegiatan lainnya. Alhamdulillah. Sebaik-baik kawan adalah yang mengingatkan kita semua dengan kebaikan, alhamdulillah dinaungi teman-teman baik karenaNya.

Perkara pekerjaan di duniawi di bulan Ramadhan, saya mencoba berusaha dengan sangat menanggalkannya kalau tidak terlalu penting. Saya juga coba taat untuk pulang tepat waktu sesuai aturan jam kerja, agar saya dapat membagi waktu dengan baik untuk menyiapkan masakan berbuka dan beribadah menyambut waktu mustajab untuk berdo’a saat berbuka. Untuk pekerjaan di luar jam kerja, saya pasrahkan ke Allah, saya kerjakan sebisanya dan semampu saya. Mendekati mudik adalah pekerjaan yang lumayan berat. Di samping bimbingan skripsi mahasiswa yang mulai berjibun di akhir-akhir deadline P2, juga koreksian berikut dengan kompilasi nilai dan input nilai sebelum 10 Juni. Padahal 9 Juni sudah rencana mudik. Akhirnya beban sebelum mudik harus saya selesaikan di kampus saat itu juga. Hingga ruangan-ruangan di sepanjang  koridor terlihat sepi saat melintas ketika pulang, karena sudah hari terakhir masuk saat itu. Tapi, alhamdulillah, Allah mudahkan.

Sama cerita lebaran dengan tahun sebelumnya, lebaran diisi dengan mudik di dua kota kelahiran saya dan suami, di Nganjuk dan di Kalibagor. Antara Jatim dan Jateng, mudik yang cukup jauh dengan rute Malang-Nganjuk-Purwokerto-Nganjuk-Malang. Ya, semua demi pembagian libur 10 hari yang adil di 2 tempat. Itu pun rasanya cepat sekali berlalu. MasyaAllah. Rasanya nyesel kalau masih banyak waktu yang terbuang sia-sia. 🙁 Tapi bagaimana pun juga, kewajiban di tanah rantau juga tak bisa dilepaskan seperti pesan ibu mertua. Semoga doa untukNya yang menjaga kami, karena hanya Dia sebaik-baik penjaga. Aamiin.

@Malang, 21 Juni 2018, senyap dan sendu karena mendung

Di kampus, A.1.9.

Leave a Reply

Your email address will not be published.