Berbagi Waktu, Berbagi Kebaikan

Alhamdulillah, saya masih diberi waktu oleh Tuhan untuk semangat dalam menulis, termasuk postingan ini yang ditulis di hari terakhir di bulan September 2018. Itu artinya, kalau saya menulis besok, berarti saya melewatkan satu bulan untuk tidak menulis dalam blog ini, yang mana akan mengingkari janji saya sendiri. Sebelum melanjutkan tulisan ini, marilah kita sejenak berdo’a menghaturkan segala kebaikan dan kesabaran untuk saudara-saudara kita di Palu dan Donggala. Semoga keadaan segera membaik, semoga trauma segera hilang, dan segala infrastruktur segera pulih. Rasanya hati ini pilu melihat video kejadian yang tersebar di berbagai sosial media, pun mendengar berita salah satu karyawan AirNav, Anthonius Gunawan Agung yang berkorban nyawa demi menyelamatkan ratusan penumpang di dalam pesawat. Anthonius membagi sisa waktunya untuk kebaikan yang lebih banyak. Gemetar rasanya hati dan raga ini. Ya Allah, betapa kami ini tidak ada apa-apanya di hadapanMu. Semoga kebaikan selalu tercurah untuk kami semua. Aamiin

Berbicara masalah waktu, beberapa waktu lalu saya sempat meminta mbak Dini untuk membagikan pengalaman dan tips yang biasa beliau lakukan, karena saya melihat beliau sangat produktif di antara statusnya sebagai seorang istri dan karyawan, juga penulis yang seudah menerbitkan puluhan buku. Beliau membagikah kisahnya mengenai manajemen waktu tersebut di sini. Beberapa waktu yang beliau habiskan tentunya untuk kebaikan yang ditebarkan luas tanpa batas dan ruang waktu. Sebenarnya, ketika kita mencoba untuk berbagi waktu dengan orang lain, itu artinya kita melakukan sesuatu untuk diri kita sendiri dan orang lain secara bersamaan. Akan sayang sekali jika waktu tersebut tidak untuk kebaikan, kan?

Permasalahaannya, terkadang tidak mudah untuk membagi waktu, dan kita tidak bisa memenuhi semua permintaan tanpa ada filtering mana yang harus diprioritaskan. Diri kita sendiri juga butuh waktu untuk sekedar me time dan mengembangkan potensi diri. Misalnya, kita meletakkan keluarga sebagai prioritas utama, maka sepenting apapun pekerjaan di luar sana, juga akan ngantri di barisan setelah masalah keluarga itu selesai. Bisa dibilang pekerjaan rumah adalah pekerjaan yang berat buat saya jika dibandingkan pekerjaan kantor. Karena kerjanya berat, maka ganjaran yang diberikan Allah pun tidak tanggung-tanggung untuk yang sudah berumah tangga. Indahnya saat bersama akan meringankan yang berat-berat tadi. Oleh karenanya, jika seseorang sukses dalam pekerjaan kantornya, the main supporting systemnya sudah jelas, yaitu keluarga. Oleh karenanya berbagi waktu dengan keluarga, tentunya akan mengalirkan kebaikan-kebaikan yang lain. Reduce your work during weekend and spend more time with your family. The precious time never come twice. Pada waktu-waktu tertentu saya pun kerap meminta izin suami untuk melakukan something that I like the most. Tanpa izin, saya tidak akan melakukan itu, namun kalau suara hati saya bertolak belakang dengan pendapat beliau, saya akan sampaikan sudut pandang saya juga, dan dengan diskusi, kami mengatur apa yang seharusnya dilakukan berikut batasan-batasannya. Saya dan beliau selalu belajar sama-sama berbagi waktu untuk kebaikan kami bersama.

Kebaikan dalam keluarga tidak dipungkiri menjadi semangat tersendiri dalam menebar kebaikan di lingkungan luar. Jadi semakin belajar bahwa indikasi lingkungan positif bukan hanya teori belaka, namun pada implementasinya akan memengaruhi setiap aktivitas yang kita lakukan.

Pun berbagi waktu dengan orang lain di luar rumah, -dalam hal ini bisa berarti pekerjaan selain di rumah-, adalah hal yang menyenangkan apalagi jika bisa bermanfaat buat orang lain. Beberapa waktu lalu percakapan saya dengan salah seorang kawan yang sudah lama tak jumpa. Sepenggal kalimat yang tersampaikan saat itu via chat.

dia: “Menjadi dosen atau pendidik itu adalah pekerjaan tertinggi. Cuma menjadi pendidik itu ilmunya berkah, amal jariyah.”

Kemudian saya merespon bahwasanya, apapun pekerjaannya jika manfaatnya bisa dirasakan meluas berarti itu juga penting dan bisa menjadi sumber kebahagiaan, dan juga bisa menjadi berkah. Jadi bukan hanya guru saja, atau dosen saja misalnya yang ilmunya berkah, pekerjaan lain pun juga sama. Kita hidup untuk bermaanfaat bagi orang lain, pekerjaan tertinggi kita semua adalah bermanfaat untuk sesama melalui  ridloNya. Sebanyak apapun jam mengajar kalau Allah tidak ridlo, tidak ada kebaikan di dalamnya. Tidak ada diskriminasi pekerjaan hingga label yang bekerja A lebih berkah daripada yang kerjaannya B. Berkah atau tidak itu mutlak penilainNya. Teringat saat saya dulu interview dengan Google. Saya belain ikut interviewnya meski tidak sependapat dengan hati nurani, karena melihat aplikasi Google saat ini sangat membantu berbagai pekerjaan manusia, terlepas dari hal negatif dari penggunaannya yang disalahgunakan beberapa orang yang kurang kerjaan. Contooh manfaat misalnya, sekarang, orang jadi dimudahkan dengan aplikasi Google Maps, sehingga bisa memetakan jalan mana saja yang tidak macet, jalan alaternatif yang bisa digunakan, yang mana dengan memudahkan urusan orang pun kita juga bisa mendapatkan kebahagiaannya. Semua aplikasi tersebut fondasinya adalah ilmu dan penelitian. Ilmu kita juga bisa berkah di dalamnya, asal masih on track dengan kebenaranNya.

Intinya, berbagi waktu yang kita miliki kita bisa memperoleh kebaikan yang menimbulkan kebahagiaan. Tidak hanya berbagi waktu secara horizontal, namun kita harus berbagi waktu juga dengan Pemilik waktu secara vertikal. 🙂

@baiti jannati, Malang, menjelang Maghrib

2 thoughts on “Berbagi Waktu, Berbagi Kebaikan

  1. Selalu sukaaaa sama postingannya Mbak Sari yang always inspiring me 😍😍😍 terutama pada bagian tidak ada pekerjaan A yg lebih berkah drpd pekerjaan B, karena semua mutlak Allah yang nilai 🙂
    It’s really encourage me Mbak

Leave a Reply

Your email address will not be published.