Berbeda dan Menerima Perbedaan

Menjadi berbeda membuat saya belajar lebih bagaimana menerima perbedaan. Cukup sering saya memiliki perbedaan pandangan di antara circle yang saya miliki ataupun strangers yang saya temui. Namun acapkali perbedaan tersebut terkadang dipandang sesuatu yang “aneh” sehingga seakan-akan ada kecenderungan untuk berkata your way is not good anyway, just follow my path, listen my voice and do that as well in yours. 

Saya ambil contoh misalnya, seseorang melontarkan pesan tanpa diminta dengan menyatakan “jangan membuat dirimu stress dengan membuka laptop di akhir pekan”. Hal tersebut adalah sebuah saran yang keluar tiba-tiba dengan tidak mengetahui secara pasti keseharian bahkan weekend saya itu ngapain saja 😀 Sebenarnya, membuka laptop tidak harus mengerjakan sesuatu yang membuat stress juga kan?, nonton misalnya (kerjaan suami banget nih). So, the definition about stress and it turns out become a problem is really depending on each.  In case, saya butuh refresh dan me time,  saya akan buka laptop. Misalnya, beberapa dari mereka tidak mengetahui bahwa dengan menulis membuat mood  saya jauh lebih baik, dibanding saya harus pergi shopping atau ngemall. Memang sekali-kali ngemall kalau lagi butuh ada yang dibeli atau lagi ingin makan junk food tertentu #eh. My husband know me so well regarding of this and he support me.  Sebagai cewek memang saya tidak begitu suka shopping. Saya lebih suka diajak jalan melihat pegunungan atau hutan, atau keindahan alam, berkunjung ke rumah teman atau kalau tidak jauh-jauh, ke toko buku cukup membuat saya senang :D. When my husband let me to do everything what I want, then I enjoy code something for couple hours, suami bertanya “gak bosen?”. Tidak sama sekali 😀 Berbeda tak apa kan? Padahal juga ngoding iseng saja (kalau kerja tim, saya tidak suka dipaksa-paksa ngoding untuk dikerjakan saat weekend, urusan kantor usahakan saat weekdays begitu pula dengan notificationnya). Intinya saya ingin weekend melakukan apa yang saya suka, jika ada waktu untuk mengerjakan apa yang saya suka, itu bahagia buat saya. 🙂

Buat sebagian orang bekerja di saat weekend terkadang menjadi sebuah kebutuhan. Meski saya bukan termasuk tim yang sepakat kerja kantor saat weekend, tapi kalau buat sebagian orang penting dilakukan untuk kebaikan dan memberikan kebaikan untuk orang yang lebih banyak, juga kenapa tidak? So, well memandang perbedaan itu sebaiknya bukan dari satu sisi saja, apalagi melihat dengan teropong kita saja. Kurang presisi saya rasa. Selama tidak menentang norma dan juga aturan agama, saya rasa berbeda bukan menjadi momok, justru seharusnya membuka pandangan kita akan sebuah perbedaan itu sendiri. Tidak setuju juga boleh, asal tidak memaksakan pandangan kita terhadap orang lain.

Contoh lain, yang lagi hot, 😀 entah sudah berapa banyak orang yang bertanya kepada saya terkait dengan ikut atau tidaknya seleksi CPNS. Reaksinya pun beragam. Saat ditanya alasaannya,  saya sudah jelaskan alasannya, namun beberapa menyatakan pandangan saya terkesan ‘aneh’. Jika ditanya maka tetap akan saya jawab dan tidak memberikan alasan jika tidak ditanya (as usual). Dari saya kecil ortu tidak pernah memaksakan pilihan ke saya, semuanya diserahkan ke saya. Dari situ saya belajar untuk membuat pilihan berdasarkan apa yang saya lihat, temui dan pelajari dari pengalaman orang lain. Suara hati dan juga melibatkan Tuhan sangat penting dalam memutuskan pilihan. Ketika pilihan berbeda, tak seharusnya kan kita menjustifikasi orang lain bahwa pilihan kita lebih baik dari yang lain? Karena Tuhan jauh lebih tau apa yang terbaik buat kita.

Indonesia sudah terlahir dengan budaya yang berbeda, pun seharusnya menerima perbedaan menjadi bagian dari kita menerima reaksi yang berbeda. Sebentar lagi juga pilihan Presiden, semoga perbedaan pilihan di antara teman tidak merusak persahabatan karena perbedaan pendapat itu sendiri. Seandainya pikiran lebih terbuka menerima perbedaan, tak seharusnya perseteruan  tentang perbedaan di sosial media terjadi. Berbeda pendapat kemudian berdebat yang salah satu merasa lebih benar dan baik dari yang lain tidak menimbulkan manfaat apa-apa, selain memperkeruh keadaan, apalagi kabar yang diperdebatkan kabar hoax. Jika berbeda itu tidak dapat dipungkiri, namun masih bisa menerima perbedaan, semoga muncullah rasa damai yang bersemi di negeri ini. <3

Ketika kita tidak tahu benar tentang berita atau keseharian orang lain, janganlah mudah menjustifikasi dengan cepat. Riset boleh tentang berita negeri ini untuk lebih baik tapi kepo dengan urusan pribadi orang juga tak terlalu baik, apalagi tidak kenal-kenal amat atau malah jarang ketemu dan berkomunikasi. Selamat berakhir pekan 🙂

@baitti janati, akhir pekan cerah

2 thoughts on “Berbeda dan Menerima Perbedaan

  1. Mbak Sarii, sama bangeet sih di bagian :”Sebagai cewek memang saya tidak begitu suka shopping. Saya lebih suka diajak jalan melihat pegunungan atau hutan, atau keindahan alam, berkunjung ke rumah teman atau kalau tidak jauh-jauh, ke toko buku cukup membuat saya senang :D”

    Saya juga ngga terlalu suka belanja, bahkan Bapak saya sendiri bilang klo saya itu klo belanja ngga kaya cewe kebanyakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.