Apa yang aku pelajari?

Lama tidak mengisi blog, nyaris 2 bulan, tahun ini nampaknya kurang konsisten dalam nulis blog ini.πŸ˜… Well, banyak hal berharga yang sebenarnya bisa aku tulis, sebagai bentuk refleksi maupun kontemplasi. Terutama semenjak masa cutiku berakhir, dan aku harus menjalankan peran secara penuh sebagai istri, bunda, dan ibunya anak-anak yang gak keitung lagi saking banyaknya ngopeni anak orang 😁 serta tak lupa bagaimana pun juga aku adalah seorang hambaNya yang terus mengharap doa. Alhamdulillah, dibalik capek ada kepuasan dan kesenangan tersendiri, ketika ada hal bermanfaat dari diri ini. Semoga bisa terus berbenah dan belajar mejadi jauh jauh jauh lebih baik. Aamiin. Apa yang aku pelajari dari menjalani peran-peran itu?

1. Mandiri. Sejauh ini betul-betul merasakan manfaatnya belajar hidup mandiri. Belasan tahun menjadi perantau membuatku lebih yakin membuat keputusan, menganalisis masalah, berdiskusi, bertanggung jawab, berdamai dengan diri sendiri. Hal ini lebih dilengkapi dengan kolaborasi bersama suami yang juga berpengalaman menjadi anak rantau. Pernah berada dalam ribuan miles terbentang benua yang berbeda dalam jangka waktu lama, juga dalam minoritas yang serba terbatas. Sejauh ini manfaatnya terasa saat mengurus baby yang jauh dari siapa-siapa. Yep, seperti artikel-artikel yang dipost sebelumnya, dari semenjak lahiran kami sudah melewati ini berdua saja dan kami selalu menganggap pengalaman baru sebagai hal yang menyenangkan. Sudah itu saja. Kalau Bapak/Ibu sudah pengalaman punya bayi bagaimana rasanya mengurus newborn pasti tahu. πŸ˜€ Dari situ aku juga ngerasa seperti selalu menggantungkan hidupku sama Tuhan, sehingga lantunan doa sengaja dipanjatkan untuk mengharap diberi kemudahan, kelancaran dan keberkahan πŸ₯°

2. Prioritas. Semakin ke sini bisa dong bilang “iya” atau “enggak” secara rigid. Kami saling menyadari kapasitas maksimal kami, jadi untuk pekerjaan yang sekiranya tidak prioritas kami pending, apalagi untuk akhir pekan. Kami berdua sempat tinggal di Eropa dalam waktu lama pas zaman masih sama-sama single. Dari sana kami belajar bagaimana orang-orang sana menghargai family time, weekend atau bahkan spend a certain times for travelling. Kami juga menyadari bahwa waktu kecil seorang bayi akan berlalu cepat, jadi ini jadi prioritas, bahwa baby N tetap harus jadi perhatian di sela-sela kesibukan kami. πŸ’ž

3. Multitasking. Aku tahu ini tidak bagus karena tidak bisa membuat seseorang fokus dalam satu hal dan maksimal, tapi mau tidak mau we have to. Misalnya sambil nunggu rebusan air buat mandi baby N siap, aku bersih-bersih rumah. Sambil kerja momong baby N, ngASI baby, dll. Ketika baby N tidur buru-buru menyelesaikan pekerjaan. Rempong, tapi ketika udah kayak nggak sanggup, ingat padaNya jadi adem.

4. Al-Quran menghilangkan karat di hati. Setiap hari mengusahakan banget untuk ini, kalau tidak, murojaah surat-surat pendek, meski surat-surat itu saja. hiks. Kalau dipikir-dipikir dulu one day one juz bisa kenapa sekarang jadi sulit? Ujiannya banyak banget, termasuk konsisten ikut kajian, padahal sudah dipermudah dengan daring. Harus lebih banyak kontemplasi dari hal ini.😭

5. Komunikasi dan Kerjasama. Ya, makin kesini makin banyak belajar. Jujur, ngomong saja, terbuka, saling silang pendapat, mencari jalan tengah bersama, saling berdamai dengan perbedaan. Masih sama seperti awal nikah dahulu, jika ada masalah, selesaikan sebelum tidur, sehingga tidak tidak membawa sampai keesokan paginya. Saling ‘merangkul’ untuk mendewasa bersama. Alhamdulillah, banyak hal seru sampai akhirnya belajar banyak tentang hal ini.

6. Mengatur Waktu. Hubungannya dengan disiplin. Karena lagi-lagi cuma handle baby N berdua di sela kesibukan, kami harus strick dengan jadwal. No santuy2 club, karena satu jadwal molor akan memengaruhi jadwal yang lainnya yang ujungnya jadi kacau. Seru πŸ˜‚ Kadang kerempongan ini yang meciptakan cinta dengan bumbu alami yang sedap. Wkwk. Intinya kebahagiaan yang menciptakan kita bukan dari omongan lain.

7. Diksusi sehat dan berbobot membuat waktu singkat lebih bermutu. Karena seprofesi, kadang omongan ringan saja tak jauh-jauh dari masalah keilmuan kita. Kadang suami yang sering kasih insights soalnya literasi beliau lebih banyak. Ini salah satu cara kami menciptakan momen yang indah bersama. How about have fun? Hei! I won’t tell you about that 😝

8. Berbagi. Momen berbagi ini kami juga ajarkan ke baby N sejak dini atau bahkan sejak dalam kandungan. Sejatinya makhluk hidup (pokok gak buas atau berbahaya) itu berbagi. Ya, sebagai contoh kecil dan sederhana, biasanya kami menyisihkan tulang atau kepala ikan untuk kucing yang sering bertandang di rumah kami, maksud kami sih daripada dibuang mending dimaem kucing. Kemudian beberapa tanggapan “gitu itu tuman dikasih makan makanya datang terus” πŸ™ lha gimana ya si kucing kan makhluk Tuhan juga. Alhamdulillahnya, sejauh ini si kucing malah kayak jadi penjaga. Kadang kami dikasi hadiah πŸ˜‚ dan paling lulut sama suami. Biasanya kalau maemnya baby N gak habis karena kebanyakan pas masak, dimaem kucing juga untung si kucing mau. Kucing endel ya maemnya Mpasi bayi 4 bintang plus lemak kadang sama keju juga. Setelah maem dan sudaj lebih dari 30 menit bilang ke baby N “kucingnya mau maem juga ya, ini daripada dibuang mubadzir diberi ke kucing ya” πŸ˜˜πŸ’ž Untuk berbagi yang lain, pasti dari kita sudah sama-sama paham hakikatnya berbagi. Termasuk berbagi cerita begini…hehe..

9. Kesabaran itu tanpa batas. Kalau sabar ya sabar saja. Sudah itu, kalau ada batasnya bukan sabar lagi namanya..hihi.

Apalagi ya. Banyak banget, susah memang kalau mau dirangkum jadi satu haha.. πŸ˜‚ yang jelas memang banyak yang terus akan dipelajari. Gak akan ada habisnya pelajaran kehidupan itu, harusnya juga tanpa lelah belajar. Semoga istiqomah, semoga yang kurang-kurang selalu ditingkatkan. Bersaing dengan diri sendiri, aku yang sekarang dengan aku yang sebelumnya.. semoga lebih baik yaa..aamiin..

Lega akhirnya bisa nulis lagi. πŸ˜€ Tulisan sebelum tidur.

@baiti jannati, malam, sebelum tidur.

Leave a Reply

Your email address will not be published.