Time Management

Assalamualaikum, blogku.. 🙂 Kuniatkan menulis ini sebelum mengerjakan serentetan daily activity hari ini. Seperti biasa merutinkan untuk bangun sebelum subuh, di samping mengisi nutrisi hati yang selalu butuh komunikasi dengan pemilikNya, juga mengerjakan pekerjaan yang MasyaAllah tidak ada hentinya. Entah mengapa, seiring berjalannya waktu, aku menikmatinya. Alhamdulillah, semoga Allah kuatkan jiwa dan raga ini untuk meraih ridlonya dan mencapai keberkahan. Aamiin

Nyaris sebulan ini, tanpa ada ART di rumah kami karena mbak-e merantau ke pulau lain. Kembali ke kehidupan dua bulan sebelum N lahir. Bedanya sekarang sudah ada N yang usianya menginjak 12 bulan. Sudah bisa bilang ‘a..em’ kalau lapar, sudah bisa bilang ‘enggak’ kalau tidak mau, sudah bisa bilang ‘da-da’ sambil melambaikan tangan, sudah bisa ngemil sendiri, sudah bisa jalan timik-timik. MasyaAllah. Semoga sehat selalu dan Allah berikan keberkahan dalam setiap langkah kecilnya. Kami, yang memang pada dasarnya perantau, sudah terbiasa melakukan semua hal berdua menganggap setiap fase yang ‘baru’ sebagai bahan belajar. Ayok wes bareng, InsyaAllah bisa. Ini masalah komitmen, karena 2-2nya sama-sama bekerja, dan masih ada bocil yang lagi aktif-aktifnya. Jadi, yahbun harus benar-benar kompak agar semuanya berjalan dengan baik.

Mungkin di sini aku akan sharing saja ya, bagaimana kita berdua mengatur waktu sehari-hari agar semua bisa berjalan sesuai dengan seharusnya. Karena bagaimana pun juga ada amanah domestik dan amanah di kantor, semuanya memiliki porsi tanggung jawab. Kalau kata seorang teman, “utang amanah itu lebih berat dibandingkan dengan utang materi”. Akan kubagi ke dalam blok item pekerjaan saja.

1. MEMASAK
Awal-awal dulunya sering beli, karena tugas di kantor berjibun, di rumah apalagi, tapi yahbun tetap usahain N selalu makan masakan rumahan (alias masak dewe). Setelah beberapa fase percobaan akhirnya alhamdulillah aku bisa handle ini masalah masak dengan cara food prep. Yep, aku belanja mingguan, tapi aku belum ada jadwal fix per hari masak apa, jadi pokoknya beli bahan ini saja, soal masak apa nanti itu insting. Semenjak pandemi aku beli sayur online, sudah berganti-ganti penjual, sampai aku saat ini sudah nyaman dengan penjual sayur online ku yang sekarang. Benar-benar sesuai request, dan dipilihin yang bagus-bagus dan seger-seger. Mulai ikan, daging, buah, sembako, ada semua. Yang pasti, baik penjual dan kurirnya selama ini yang saya tahu orangnya amanah, karena sempat ada kejadian si kurir jatuh di jalan dan menyebabkan ada item yang rusak dan diganti dong sama kurirnya, sambil minta maaf. Ya Allah, padahal mah akunya gapapa gak usah diganti, ya siapa to yang mau jatuh dari motor :(. Oke, jadi aku pas hari kerja masak, pas weekend, biasanya Sabtu aku pengen santai dan libur dari memasak, meski kadang ditake over sama Ayah 😀 Alhasil, si N ini tidak maem banyak kalau tidak masakan dari tanganku, MasyaAllah. Jadi, setiap kali aku yang masak dia lahap, apapun yang aku masakin, MasyaAllah. Sejaik MPASI, N alhamdulillah kooperatif, tidak drama makan, apa saja dimaem: buah, sayur, doyan semuanya. Apa mungkin ya karena pas hamil dulu aku ndak ngidam apa-apa? Aku pernah ada pengen pas hamil, tapi kan gak ada, trus kayak gak harus dituruti gitu loh. Wallahualam.
Waktu yang aku butuhkan untuk masak rata-rata 1 jam. Sayur, lauk nabati , dan lauk hewani setiap hari (ini karena lebih fokus ke asupan gizi N). Pekerjaan ini juga sudah jadi satu dengan korah-korah dan bersihin dapur seusai masak. Terkadang aku juga bikin cemilan tambahan, karena N suka ngemil: bolu kukus pisang misalnya, piscok, pisang goreng, kolak, dll. (banyak unsur pisangnya, karena seminggu sekali ada stok pisang 😀 ).

2. BERSIH-BERSIH RUMAH
Ini tiap hari ya, karena ada bocil, bersihinnya sesering mungkin, tidak asal ‘kelihatan bersih’, tapi kalau kerapian jangan ditanya 😀 Selama ada bocil habis rapi ya ada berantakannya, namanya juga belajar eksplorasi. Aku mah seneng lihatnya kalau N berkreasi, kadang doi juga aku beri contoh untuk masukin barang ke tempatnya. Setidaknya, diberi contoh saja, kadang dilakuin, kadang enggak 😀 Ya, masih 12 bulan ini. Kadang Ayah mandiin N bunda beres-beres, atau sebaliknya. Pokok kuncinya disiplin sama waktu. Kalau weekend, Bunda mulai melanjutkan aktivitas decluttering yang perlu dicicil pelan-pelan. Pengen mencoba minimalis, biar tidak sumpek lihat printilan yang super banyak, yang tidak terlalu difungsikan sering. Sementara itu, Ayah nyabutin rumput, kosek jeding, dan pekerjaan lainnya. Seringnya, kita libatkan N dalam aktivitas ini, meski dia jadi penonton saja :D. Biasanya beberes rumah secara (agak) masif ini dilakukan setiap pagi dan sore hari.

3. OFFICE’s TASKS

Ini kayak bener-bener diusahakan untuk dikerjakan pas jam kerja saja. Tidak WFH saja bisa tidak selesai-selesai, apalagi WFH 😅 Bisa kubilang sih weekend itu cuma Sabtu doang, Minggu itu sudah persiapan untuk hari Senin. Jika waktunya PBM, ya waktunya buat materi kuliah, masuk dapur rekaman, dll. MasyaAllah juga, amanah setelah cuti melahirkan itu benar-benar agak banyak dibandingkan sebelumnya. Di masa-masa seperti ini, ya tak jarang kami rapat sama N, ngajar sambil DBF, bimbingan sambil ngemong. Wes, seru intinya jika dinikmati dan disyukuri ❤️ Alhamdulillah. Untuk beberapa hal atau mau janjian dengan beberapa student, kami diskusi dahulu, sebaiknya kapan. Tak lain dan tak bukan karena ya sambil jaga N. Pernah gak ada jadwal yang barengan? Sering! untungnya WFH. 😁

4. Cuci baju-Jemur-Setrika

Ini bisa gantian lah, yang nyuci kan mesin, jemur juga bisa gantian, setrika kalau perlu saja. Alhamdulillah.

5. Nemenin Bocil Main

Aku dan suami sepakat, seusai jam kerja itu letakkan laptop sampai jam tidur N di malam hari..Oleh karena itu, aku dan suami tipikal yang weekendnya tidak mau keganggu pekerjaan kantor kalau tidak mendesak. Lebih ke arah life balance sebenarnya, juga N kan masih dalam fase emasnya yang butuh banyak pendampingan dan perhatian dari ortunya. Pas jam kerja bagaimana? gantian. 😂

Kurang lebih begitulah kisah time management kami. Kami memastikan juga bahwa kami harus benar-benar “waras” dalam menjalankan itu semua. Artinya apa? ekspektasi jangan terlalu tinggi. Kebahagiaan itu dari hati. Keberkahan itu yang dicari. Aku selalu berdoa bahwa dengan WFH ini, lebih banyak kebaikan yang dibentuk di rumah ini. Bagaimana pun juga, rumah adalah tempat ternyaman. Oleh karena itu, pandemi seperti ini membuatku berperan utuh dalam setiap pekerjaan: seorang istri, seorang bunda, seorang ibu dari buanyak anak yang juga perlu diurus setiap minggunya. MasyaAllah. Alhamdulillah.

At baitti jannati, selepas subuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published.