Berdamai dengan Kegagalan: Daftar Masuk S3

Blog ini vakum dua bulanan nyaris tiga bulan. Rasanya sudah kangen menulis, karena menulis itu sebuah penghiburan tersendiri buatku. Memang dalam beberapa bulan belakangan jadwal padat merayap ditambah amanah yang semakin anteb rasane. Bekerjaran dengan waktu, dengan tenaga yang menuntut untuk istirahat. Ya, dinamikanya sungguh membuat jiwa dituntut dalam mode “waras” selalu.

Ya, kali ini aku mau berbagi cerita aja tentang daftar kegagalanku (kok bangga? πŸ™ˆ) sebagai scholarship hunter kembali untuk studi lanjut S3. Ya, mungkin ini wes lumrah terjadi dan rasanya bukan sesuatu yang bikin depresi banget kalau ternyata di sini situ ditolak semua. Yang membuat berbeda dari pengalamanku sebelum-sebelumnya adalah kondisiku saat ini sudah berkeluarga (ada suami dan 1 anak sholehah yang belum genap 1,5 tahun). Dengan kondisi ini, aku tidak mudah dan tidak sembarang mengambil keputusan seperti waktu single dahulu, yang apa-apa ya ambil saja, ya go saja. Banyak pertimbangan, banyak constraint apalagi peranku sebagai istri dan ibu yang membuatku tetap harus taat, karena itu yang utama.

Hal ini pun selalu didiskusikan dengan suami (karena seprofesi) jadi setidaknya lebih mudah mengkomunikasikan hal ini tanpa ribet diplomasi. Jadi, saat mau submit saja tidak hanya tebar jaring, tapi ada filter di awal: daftar apa tidak, sesuai apa tidak dengan rencana kami. Kami pun sebenarnya tidak berencana yang gimana-gimana gitu, soalnya both of us itu seringnya rencana apa, jadinya apa. Jadi, instead of kudu A, B, C, lebih ke yaudah ini sepertinya masuk kriteria, dicoba saja, selebihnya kami pasrahkan. Yakin Allah kasih rencana terbaik.

Soal persiapan, standar lah ya, seperti syarat-syarat beasiswa pada umumnya, beda tempat beda aturan, dah aku ikuti saja itu. Ada yang modelnya kontak supervisor dulu, ada yang seleksi berkas dulu, macem-macem lah, ada yang minta research proposal dulu ada yang tidak, dsb, dst. Ribet? Jelas 🀭. Mana ada yang bener-bener instan? Ya, paling enggak korban waktu dan pikiran. Menurutku sih, sejauh ini ya, tak bisa disamakan juga perjuangan orang satu dengan yang lain, pun rezeki pun tak sama satu dengan yang lainnya.

Proses submission dan modelnya saja beda-beda. Ada yang melalui portal khusus seperti jobbnorge, ResearchGate, aplikasi admission dari masing-masing universitas, macem-macem. Kalau tidak dicoba mana tahu? kalau tidak dicoba mana ada pengalaman? Gitu kam ya?Yaudahlah, Bismillah saja, wong gratis ini daftarnya. Eh ada ding yang bayar waktu itu 🀭

Oke, pembukaan yang terlalu panjang karena sudah lama tidak ngeblog πŸ˜‚ langsung saja. Inilah daftar kegagalanku sejauh ini sebagai pencari beasiswa studi lanjut S3.

1. Ph.D at IST Austria.

Ini emang inceran sudah sejak lama, karena ada paper penelitianku yang mensitasi beberapa paper dari salah satu lab di sana. Waktu dekat deadline mau submit, iseng nyari acceptance rate yang bikin njiper dan iseng juga liat CV dari para Ph.D student. Duh, minder mereka pengalaman internnya lebih banyak πŸ™ˆ, ke Microsoft, Google, atau perusahaan besar lainnya. Yaudah wong tinggal submit saja masa mau mundur? 🀣 Submit dah! dan jelas ditolak 😬.

My first trial

2. Double Ph.D Degree

Aku dapatkan informasi ini di ResearchGate, karena aku suka follow paper-paper di bidangku, jadi ada fitur rekomendasi job yang relate sama bidangku. Ph.D degree in Image/Information Retrieval and Pattern Recognition dari Universityof Groningen dan University of Leon. Waktu itu match banget sih dengan yang aku mau, jadi coba saja sih. Walau akhirnya, ditolak juga dong πŸ˜€

3. Marie Curie Scholarship

Susah banget waktu itu cari bidang yang bener-bener spesifik yang berhubungan dengan pengetahuan yang aku punya. Sebagai mantan anak Erasmus+ boleh lah coba-coba Marie Curie, gajinya mayan 🀭. Jadi, ini informasinya aku dapatkan di portal ini. Ini dulu yang kusubmit adalah berbentuk project dari salah satu universitas di Italia. Asik ini dulu projectnya, modelnya 18 bulan riset di kampus, 18 bulan sisanya terbang ke cabang perusahaan Philips di Belanda untuk implementasi langsung ilmu yang didapatkan 18 bulan sebelumya. Jadi, ada pengalaman akademis dan industri jadi satu. Ada tuntutan publikasi juga seingatku, tapi udah lupa apa saja. Saat itu hanya sampai tahap interview 😬. Yang aku inget, setelah interview ini, besoknya aku rawat inap pertama kali dalam hidupku, dan pertama kali diinfus juga. πŸ˜€

4. Ph.D in Machine Learning, University of Bergen

Kali ini aku apply via jobbnorge. Seperti biasa dengan tidak terlalu berekspektasi apa-apa, modal dicoba saja seperti biasanya. Susah banget ya cari sekolah S3, karena mungkin lebih spesifik. Dipanggil sampai tahap interview. Lamanya interview satu jam dengan 3 orang teknis yang ngerti banget bidang yang kuambil. Yep, bukan machine learning in general seperti bayanganku 🀭. Awalnya aku diminta presentasi tesisku, terus diskusi short essay yang telah kubuat sesuai permintaan, aku bener-bener gak ngerti tentag topik itu, setelah baca-baca paper dan jurnal semakin tidak paham dan sangat rumit tampaknya 😒. Okelah, belum rezeki, ditolak juga 🀭.

5. Max Planck Research School for Computer Science

Dari semua aplikasi beasiswa yang pernah kucoba, ini yang paling epic karena butuh ijazah mulai SD, SMP, SMA, kemudian minta ada translatenya juga. Bener-bener gak paham buat apa, tapi karena kayaknya lihat kriterianya masuk, ya dicoba saja. πŸ˜† Tapi ya ketolak juga sih akhirnya. Untung wes rodok kebal..πŸ™ˆ

6. KU Leuven, P.hD position for Mechatronic in eHealth in the application of food intake monitoring

Setelah pengumuman penolakan kelima, aku absen untuk submit lagi karena mau santai dan menikmati momen kehamilan baby N saat itu. Nah, yang keenam ini adalah pertama kali submit lagi setelah melahirkan dan merasa siap untuk berjuang lagi. Semakin siap juga jika harus tertolak lagi. Bagi yang tahu riset kolaborasiku beberapa waktu terakhir ini tawaran bener-bener aku banget. Tapi, sayangnya aku belum dapat informasi lagi hasilnya seperti apa. Tapi udah lama sih, jadi anggep saja belum rezeki.

7. Hongkong Ph.D Fellowship Scheme di The Hong Kong University of Science and Technology.

Setelah mencoba berkelana dengan berbagai model submission di kawasan Eropa, akhirnya jatuh hati juga dengan kampus-kampus di Hongkong yang peringkatnya ngeri πŸ™ˆ Requirementsnya juga lumayan. Selengkapnya, tautan di sini. Ini submit yang paling ngoyo, pakai tes bahasa online yang itu mbayar, submitnya yo mbayar pisan. πŸ˜† Dah, lah kuanggap sebagai bentuk investasi jika aku berhasil nantinya. Tapi lek enggak yo tidak masalah. Ternyata, emang belum rezeki πŸ˜‚.

Sementara itu dulu yang bisa aku bagikan ya. Semoga bermanfaat πŸ™, barangkali pas di aku gagal, di kalian bisa berhasil. 🌿 Perjuanganku ini masih belum seberapa tentunya. Perjuangan yang harus nyempetin waktu buat menyiapkan aplikasi sebelum deadline. Sempat juga lewat deadline saking rempongnya, padahal sudah nyempetin waktu. Anyway, surfing info beasiswa atau topik yang bersesuaian dengan kita juga takes time. Jadi sabar dan ditelateni saja, hehe.

Failure is not when you don’t get success,

Failure is when you stop trying constantly to get success!

Piyush Malvi

Oh iya, semua yang aku coba itu udah include dengan beasiswa atau gaji ya, dan itu InsyaAllah cukup kalau sekalian bawa keluarga. Rata-rata juga tidak ada batasan umur. Mungkin di aku belum rezeki, tapi siapa tahu rezekinya di kalian. Hehe. Aamiin.

Aku percaya bahwa setelah berusaha dan Allah pilihkan atau tetapkan yang mungkin tidak sesuai ekspektasi, maka itu adalah keputusan yang terbaik bagi kita. Jadi, minta petunjukNya selalu agar ridlo sehingga apa yang dilakukan ini berkah dan berbuah kebaikan. Aamiin. 🧑❀️🌿🌿🌿

@Baiti jannati, malam minggu, N sudah dalam lelapnya

Leave a Reply

Your email address will not be published.