Perjalanan Panjang Menemukan Tempat Studi Lanjut S3

Assalamualaikum wr wb. Selamat datang kembali di blog Arumsha. Melanjutkan topik S3, kali ini Arumsha akan bahas mengenai pengalaman pribadi dalam perjalanan menemukan tempat studi lanjut S3. Sebelumnya, agar tidak roaming banget di postingan kali ini, kalian bisa menuju ke postingan sebelumnya di sini. Nah, setelah tahu kapan sebaiknya untuk melanjutkan studi S3, maka saatnya siap untuk menyusun beberapa strateginya. Bismillah. Oh iya, dalam postingan ini, lebih banyak akan sharing pengalaman S3 ke LN ya, mungkin kalau ke DN relate bisa dicoba juga seharusnya ๐Ÿ™‚

Sebelum pada akhirnya rezeki di Okayama University-Jepang dengan saya mendapatkan beasiswa penuh MEXT dari pemerintah Jepang, daftar kampus yang pernah saya apply sudah pernah saya ceritakan di sini.

1. PERSIAPAN

Persiapan di sini saya bagi menjadi 2 ya, persiapan teknis dan non-teknis. Persiapan teknis sendiri meliputi:

  • Paspor. Hampir setiap form application membutuhkan yang namanya paspor. Kalau belum punya, silakan dibuat dulu. Kalau sudah punya tapi expired, silakan diperbaharui dulu. Kalau sudah punya dan masih berlaku, silakan dipindai (discan).
  • Ijazah dan Transcript. Kalau belum diterjemahkan, silakan mulai untuk diurus terjemahannya di kampus atau bisa ditanyakan juga ke panitia pendaftarannya kalau misalkan diperbolehkan menggunakan sworn translator, itu juga bisa menjadi pilihan nantinya.
  • CV. Perlu siapkan saja CV yang standar. Isinya kurang lebih terkait dengan education background, working experience, relevant courses, research interest, research grants, award/achievements, list of pubilactions, etc yang disesuaikan dengan bidang atau kampus yang akan kita tuju. Siap-siap saja, satu universitas dengan universitas lain atau satu penyedia beasiswa dengan beasiswa lain punya standar atau template CV yang berbeda. Kalau di Eropa, gunakan saja CV standarnya mereka biasa pakai Europass.
  • Motivation Letter. Dari pengalaman saya yang proses pendaftaran tidak memilih supervisor dulu, kebanyakan pakai ini dan hati-hati, jangan menggunakan satu motivation letter untuk semua pendaftaran (yang biasanya cuma mengganti nama lab, prodi atau universitasnya saja). Saran saya, tetap sesuaikan dengan requirement yang dibutuhkan saat itu. Misalnya, topik yang dibuka tentang food intake, yasudah ceritakan juga pengalaman riset yang pernah dilakukan yang mungkin berkaitan dengan food intake. Dari sini kiat bisa menunjukkan itikad baik kita dalam proses pendaftaran. Memang akan ribet dan maka dari itu selalu saya tekankan kita butuh waktu khusus untuk pendaftaran studi lanjut, salah satu alasannya karena ini, membuat motivation letter. Kalau misalnya sistemnya pilih supervisor dulu, motivation letter ini bisa dipakai juga lho buat kenalan sama supervisor di awal-awal pendaftaran.
  • Research proposal. Tidak semua peroses pendaftaran beasiswa maupun studi lanjut S3 membutuhkan ini di awal pendaftaran. Ini tentative, tetapi kalau MEXT pakai ini, jadi siapin saja research plan atas diskusi yang telah dilakukan sebelumnya dengan supervisor ya.
  • Surat Rekomendasi. Nah, ini butuh seseorang yang paham betul kompetensi kita, terkadang minta satu sampai 3 referrence. Sebagai pertimbangan bisa dosen pembimbing saat tesis, kepala grup riset atau laboratorium di tempat bekerja, atau atasan/pimpinan di institusi tempat bekerja. Mayoritas butuh surat rekomendasi.
  • Pas Photo. Terkadang ada yang menyiapkan syarat tertentu untuk ini, jadi buat siap-siap, sediakan foto terbaru ya.
  • Sertifikat bahasa. Disiapkan saja, ada yang tidak meminta ini saat pendaftaran. Berapa pun score yang didapatkan, submit saja. Sambil pelan-pelan diperbaiki score nya, mengapa? Kalau hanya menunggu score terkadang membuat kita stuck di situ-situ saja dan tidak jadi mendaftar yang berujung tidak ada pergerakan (pengalaman pribadi :D). Banyak hal ajaib yang nanti Tuhan akan menurunkan berkahnya untuk kita, yang penting usaha terus sampai mentok. InsyaAllah rezeki gak kemana. Jemput semaksimalnya.

Sementara untuk persiapan non-teknisnya adalah:

  • Niat. Niat ini benar-benar penting untuk menjaga semangat dan motivasi tujuan kita lanjut studi ini untuk apa. Perlu atau tidaknya juga sangat tergantung dengan kebutuhan. Masih ada hubungannya dengan postingan di sini ya, pertimbangkan baik-baik terlebih dahulu sebelum benar-benar memutuskan untuk lanjut studi.
  • Istiqomah. Ternyata istiqomah ini tidak mudah lho, naik turun lah moodnya saat berbenturan dengan banyaknya pekerjaan lumayan juga membuat maju mundur, dengan persiapan teknis saja sudah banyak sekali yang harus dipersiapkan. Ibarat setiap mendaftar satu tempat itu harus belajar dahulu kampusnya seperti apa, supervisornya seperti apa, topik-topik penelitiannya seperti apa yang akan kita gunakan sebagai bahan untuk membuat motivation letter dan
  • Sabar. Sabar saja dalam proses menunggu pengumuman, kalau pun tidak diterima, ya tetap sabar saja, belum rezeki dan tempat terbaik di sana.
  • Restu orang tua/suami (bagi perempuan). Ini penting ya, doa-doa mereka adalah kelancaran segala usaha-usaha kita. Kalau biasanya satu saja ada yang keberatan, pasti adaa saja ujiannya saat mau mendaftar.

2.PELAJARI POLA PENDAFTARAN S3

Jadi, model pendaftaran S3 ini macem-macem, tidak sama seperti saat saat S2, ada beberapa model pendaftaran S3 sejauh pengalam saya mendaftar ya

  1. Ada yang modelnya Ph.D student tapi juga sebagai pekerja, jadi tugasnya sebagai student researcher atau giving lecture. Gajinya gaji pekerja itu sebagai beasiswa dan tunjangan hidup. Beberapa negara di Eropa seperti ini. Biasanya topik yang ditawarkan spesifik merujuk ke satu hal yang dibungkus dalam project. Gajinya buanyak mau bawa 2-3 anak saja sepertinya cukup.
  2. Ada yang modelnya beasiswa dan kampusnya sudah jadi satu paket, seperti Marie Curie Scholarship, MEXT dan beberapa beasiswa pemerintah negara lain. Jadi kalau dapat beasiswanya secara otomatis juga dapat kampusnya.
  3. Ada yang modelnya cari kampus sendiri, dan beasiswanya terpisah, seperti LPDP.
  4. Ada yang modelnya tidak perlu supervisor dulu. Beberapa yang saya submit tidak membutuhkan supervisor dulu karena tahun pertama itu masih kuliah biasa, dan tahun berikutnya akan ditentukan supervisornya. Kalau seperti ini tidak perlu worry
  5. Ada yang perlu cari supervisor yang relate dengan research interest kita dulu, jadi kita harus sebar email, diables atau tidak pokok e siapin mental saja, lama-lama terbiasa sampai kebas rasanya ๐Ÿ˜€

Pola ini benar-benar sangat tergantung sekali dengan kita mau apply kemana, ke kampus apa dan beasiswa apa. Syaratnya beda-beda. Beda negara beda budaya. Misalnya begini kalau ke Eropa agak santai ya, kita bisa tebar jaring, tebar email, menunggu yang menerima lebih dulu. Ini berbeda dengan di Jepang, saya belum berani untuk tebar jaring seperti saat daftar ke Eropa, jadi benar-benar menunggu informasi dterima/tidak baru pindah daftar ke lainnya. Saat itu sempat menunggu pengumuman lama, sampai akhirnya muncul tawaran-tawaran S3 kampus di Jepang juga. Kemudian saya konsultasi dengan teman yang sudah studi di sana lebih dulu, katanya tidak disarankan demikian. Ora nduwe toto kromo ๐Ÿ˜€ Jadi, bismillah saja, rezeki tak kemana gaes pokoknya. Beneran serahin sama Allah saja, pasrah!

3. MEMBUAT DAFTAR SEKOLAH YANG AKAN DITUJU DAN TIMELINE PENDAFTARAN

  • Tentukan prioritas. Pertimbangkan saja universitas yang akan dituju, pelajari bagaimana budayanya, berapa besaran beasiswanya, track record lulusannya, supervisornya seperti apa, yang jelas ini sesuai dengan keminatan masing-masing dengan mempertimbangkan banyak hal. Kalau sudah berkeluarga, banyak yang harus dipertimbangkan. Kalau saya pribadi ada beberapa constraints mengenai berapa biaya nursery atau daycare kalau kami berdua sama-sama lanjut studi nantinya, bagaimana mencari kampus yang setidaknya satu kota, kalau tidak bisa satu kota minimal bisa ditempuh dengan transportasi yang kurang dari satu jam. Iya, sampai buka peta, kalau tidak memungkinkan kami skip. Jadi kalau masih single, atau yang studi lanjut salah satu keluarga (terutama suami) saya rasa constraint yang saya punya ini tidak terlalu memberatkan, kecuali satunya lanjut studi dan satunya bekerja juga.
  • Buat timeline. Ini penting buat reminder bahwa ada deadline yang perlu kita penuhi. Ini juga menjadi penyemangat kita di tengah-tengah kesibukan kita, juga bisa menjadi pengatur waktu yang efektif dan efisien. Saya dan suami membuat shared file yang isinya daftar sekolah, link, dan tenggat pengumpulan, serta info lain, kami saling berbagi. Saat senggang, sambil rebahan terkadang kami isi daftar-daftar itu, nantinya yang memungkinkan untuk kampi coba daftar bersamaan, ya kami coba saja. Itu pun juga disesuaikan dengan kesibukan lain.

4. BISMILLAH, SUBMIT, dan LUPAKAN!

Yak, ini penting, setelah bismillah, semua sudah siap submit, tinggal disubmit saja dan lupakan. InsyaAllah ikhtiyar mendaftar di tempat tersebut telah tuntas dilaksanakan, tinggal hasilnya pasrah saja. Sebaik-baik kita berencana, dengan selalu melibatkan Allah, Dia akan tunjukkan jalan terbaik untuk kita. Sekeras apa pun kita mengejar kalau bukan rezekinya di sana, juga tidak akan sampai. Kalau pun sudah demikian usaha maksimalnya, jika gagal hati itu sudah tidak terlalu kecewa dan bisa segera move on ke pendaftaran yang lain. Hehe..

Semangat ya teman-teman semuanya yang ingin sampai meraih pendidikan tinggi, semoga berkah di setiap langkahnya. Diberi kemudahan dalam meraih impiannya.

Kita tidak akan pernah tahu rezeki kita dimana selama kita tidak mencobanya. Apapun yang sudah kita usahakan, kita tak perlu risaukan hasilnya, karena Allah pasti akan tunjukkan jalan dan tempat terbaik untuk kita. Dulu saat 2014 pengen ambil exchange program ke kawasan Asia yang cuma beberapa minggu saja tidak ada yang nyantol sama sekali. Sekalinya iseng mendaftar yang agak jauhan ke Eropa, langsung diterima Erasmus+ dengan durasi 2 semester pula. Pertama kalinya ke LN dalam hidup, langsung dikasih kesempatan keliling negara-negara Schengen. Segala puji hanya untuk Allah.

Nah, karena melihat budayanya Eropa yang sepertinya work life balance banget, maunya S3 juga ke sana. Daftarlah itu awalnya ke sana, hingga tidak ada yang nyantol dan diberi rezeki di salah satu kota kecil di Jepang. Dulunya yang bingung bagaimana mengatur kalau misalnya sama paksu beda kota atau bahkan yang ekstrim sempat kepikiran kalau diterima sekolah tapi di beda negara yang berdekatan? kemudian dari lika liku perjalanan yang telah ditempuh-termasuk merawat N berdua tanpa nanny dan jauh dari keluarga dengan keduanya tetap bekerja-, Allah beri di satu tempat untuk menuntut ilmu bersama dengan sensei yang ramah keluarga. MasyaAllah, alhamdulillah. Allah memberikan lebih dari yang diminta. Allahu Akbar dengan segala kasih sayangNya.

Sekian untuk postingan kali ini, see you!

@ baiti jannati, selepas subuh

Leave a Reply

Your email address will not be published.