Lanjut Studi S2? Sudah Siap?

Alhamdulillah, tak terasa juga sudah absen menulis di bulan Februari. Baik, kali ini saya akan mencoba untuk menjawab beberapa pertanyaan yang tertunda beberapa waktu lalu dari DM dan inbox yang ada. Semoga masih relate dan tidak expired ya. Bismillah. Kali ini saya akan coba menjawab pertanyaan mengenai “apa sih persiapan mental yang diperlukan untuk studi lanjut S2?”

Sebenarnya ini subjektif ya, mengingat persiapan secara mental ini yang bisa mengelola pribadi masing-masing menyesuaikan kondisi masing-masing. Saya hanya akan memberikan pengalaman pribadi saya yang mungkin bisa diambil hikmah atau manfaatnya ya. Selebihnya, silakan disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

1. Seberapa penting lanjut studi?

Tanya betul-betul ke diri sendiri berkali-kali, “seberapa penting lanjut studi?”, “membawa manfaat apa?”, “apa tujuanku?” atau pertanyaan sejenis. Jika ada belum mantap menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, sebaiknya dipikirkan ulang kembali untuk lanjut studi, karena salah satu hal yang bisa membuat “bertahan” dengan segala ups and downs masa studi adalah dari siraman motivasi diri sendiri yang tak ada habisnya. If you have a dream, you will have a way.

“Jangan lanjut studi karena ikut-ikutan, jalani lanjut studi karena itu adalah tujuan dan harapan untuk masa depan dengan segala kebermanfaatan.”

ARUMSHA

2. Manajemen Waktu

Ini penting banget untuk menjaga yang namanya kewarasan. Porsinya harus pas, dan harus paham mana yang prioritas. Kalau memang padat sekali, bisa membuat jadwal secara berkala.

  • Waktu Belajar. S2 ini menuntut kita jauh lebih mandiri lagi dibandingkan saat S1. Karena kita tidak hanya diminta untuk mengimplementasikan dari apa yang kita pahami, tapi kita juga diminta untuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan solusi yang bisa diberikan terhadap suatu permasalahan. Kalau kita masih pakai metode belajar hanya dari apa yang disampaikan dosen, tentunya ini membuat lebih berat ke depannya. Jadi kebiasaan self-pace learning bisa ditingkatkan. Ini juga termasuk mental menjaga distraksi saat belajar, bisa menggunakan teknik pomodoro bila diperlukan.
  • Waktu Makan. Terkadang suatu waktu terkena deadline yang minta dikerjakan lebih awal alias ndadak, maka lembur adalah suatu keniscayaan. Akan tetapi, hak tubuh jangan sampai terlupa, terutama untuk makan. Makan teratur 3x sehari dengan menu seimbang, kalau tidak, minimal 3x secara teratur. Biar teratur mending diniati sekalian puasa 😀
  • Waktu Istirahat. Sama seperti waktu makan, dengan istirahat yang cukup membuat badan lebih segar dan bersemangat menjalani hari. Berdasarkan pengalaman, kurang tidur juga bisa membuat emosi menjadi tidak stabil. Atur saja bagaimana baiknya, kalau dulu saya pernah kosultasi ke dokter, disarankan tidak tidur di atas jam 10 malam, dan bisa bangun lebih pagi. Yap, kualitas istirahat juga bisa berpengaruh terhadap kualitas pekerjaan kita.
  • Waktu Olahraga. Ini juga tidak kalah penting, selain makan teratur dan istirahat yang cukup. Workout seminggu 2-3 kali membuat badan lebih sehat dan menjadi lebih segar. Kalau anak informatika, pastinya duduk lama di depan komputer itu tidak nyaman. Sedentary lifestyle juga tidak bagus untuk kesehatan. Kita semua tahu tentang ini.
  • Waktu “me time“. Berikan waktu khusus untuk self reward atau kalau anak sekarang bilangnya self healing. Asal jangan kebanyakan me time sehingga waktu yang lain jadi tidak seimbang. You deserve to have me time after you have accomplished your tasks.

3. Keuangan

Harus siap mental banget untuk masalah keuangan. Buat yang S1 sudah jadi anak kos yang dapat jatah bulanan ngepres dengan gaya hidup sangat sederhana, atau pernah kerja paruh waktu untuk membiayai kuliah, mentalnya InsyaAllah sudah terlatih. Ada beberapa pertimbangan seperti hal-hal berikut:

  • Pakai beasiswa atau tidak?

Kalau pakai beasiswa, pastikan fully funded atau partially funded. Pastikan juga durasi beasiswanya dan konsekuensi apa yang harus dijalankan penerima beasiswa. Kalau fully funded aman ya InsyaAllah, bahkan banyak tunjangan yang diberikan. Kalau partially mungkin juga perlu strategi agar tidak berlama-lama untuk lulus misalnya atau misalnya kalau ada sumber dana beasiswa yang lain yang diperbolehkan, juga bisa menjadi salah satu alternatif.  Kalau tidak pakai beasiswa, harus atur strategi juga ya, bagaimana bisa lulus lebih cepat atau tepat waktu agar tidak menambah biaya perkuliahan.

  • Sambil kerja atau tidak?

Kalau tidak sambil kerja, masih dalam tahap aman, karena fokusnya hanya kuliah dan memaksimalkan ilmu selama perkuliahan. Akan tetapi, kalau sambil kerja, perlu dipertimbangkan lagi banyak hal. Silakan ditimbang-timbang terlebih dahulu seperti poin 1 ya. Kalau memang lanjut studinya untuk menunjang karir, biasanya didukung sama tempat kerja dan kalau kondisinya dengan pekerjaan yang relate topiknya dengan penelitian di S2nya itu bagus. Misalnya pekerjaan itu tidak relate dengan topik S2 yang akan ditekuni, maka hmmm saya katakan ini tidak mudah. Iya, tidak mudah bekerja sambil kuliah. Harus benar-benar memenuhi poin1 dan 2 di atas untuk lulus tepat waktu. Tantangannya lebih banyak ya. Tidak mudah bukan berarti tidak bisa. Jadi, pastikan paham tentang poin 1 agar selalu on track.

4. Siap dengan tekanan

Sebenarnya, ini sudah tidak asing lagi ya selama menjalani proses perkuliahan atau dalam setiap menuntut ilmu atau pun dalam bekerja. Tekanan seperti apa yang dimaksudkan? Salah satunya siap menghadapi tugas yang menumpuk, siap menghadapi atau belajar hal-hal baru, siap melakukan publikasi (terutama bagi yang kuliah di DN biasanya sebagai salah satu syarat kelulusan), atau pun hal non teknis lain yang harus dihadapi juga secara bersamaan.

  • Tugas menumpuk. Ini memang sudah biasa, oleh karena itu mengelola waktu agar tidak menumpuk itu penting. Sebenarnya, dengan menunda-nunda pekerjaan saat kita sebenarnya bisa mengelola waktu dengan baik, itu juga memberikan asupan yang kurang baik dengan mental kita. “The power of kepepet” (kekuatan menjelang deadline) itu sebenarnya ada positif dan negatifnya juga, sih. Baca di sini. Yang penting tidak keseringan, apalagi kalau kerjanya tim dan sudah ada timeline pakemnya. Jangan sampai membebani anggota tim lain untuk bekerja lebih banyak karena ulah kita. #ntmsjuganih.
  • Kewajiban publikasi sebagai syarat kelulusan. Publikasi itu belajarnya tidak sebentar, dalam kurun waktu tahunan dan tidak bisa cuma kebanyakan teori. Harus praktek. Harus terjun langsung. Harus “dihujani” juga dengan komentar reviewer untuk meningkatkan kualitas penelitian yang diangkat, atau bahkan “ditinju” dengan rejection agar tahu rasanya gagal publikasi dan memperbaikinya. Nah, ini butuh mental baja, yang tak gentar merevisi setiap komentar revewer yang pedesnya level maksimal 😀 Yak, jangan bawa kata baper di sini, kamu hanya perlu move on untuk merevisi dan kamu akan jadi reseracher yang bersahaja 😀
  • Hal lainnya. Fase S2 ini unik, masa transisi yang galau-galaunya #eala, dan mungkin banyak di level quarter life crisis. Fiyuh, ini menjadi bagian yang tak kalah serunya menyiapkan mental mengadapi pertanyaan “kapan nikah?” 😀 Bisa juga pada masa ini banyak yang sudah berkeluarga dan memiliki anak yang tentunya, tantangannya lebih dan lebih lagi, tanggung jawabnya dobel2 dan InsyAllah manfaatnya juga berlipat. Oleh karena itu stay cool yak!”. Semoga berkah. Bener, “kenikmatan tidak akan didapatkan dengan kenikmatan”-beenbeforedunya_ ‘s quote

5. Sekolah di dalam negeri atau di luar negeri?

Ini juga tak kalah uniknya menyiapkan mentalnya dalam beradaptasi. Kamu bisa merujuk ke artikel sebelumnya tentang perbedaan kuliah di dalam negeri atau luar negeri, sebagai gambaran untuk menyiapkan mental yang akan kamu hadapi nantinya.

Perihal menyiapkan mental ini tidak ada kuliahnya, tidak ada teorinya, apalagi menjamin keberhasilan prakteknya. Akan tetapi, yang perlu kita pahami, mental ini akan terbentuk seiring waktu, sebanyak apa hal yang kita hadapi dan seberapa besar tingkat kesulitannya. yang jelas:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”

AL-BAQOROH 286

InsyaAllah, selama ada Allah yang selalu merangkul kita, meridloi langkah kita menuntut ilmu karena-Nya, InsyAllah kita tenang, aman, dan nyaman. Semoga juga dapat lingkungan yang mendukung ya, meski banyak beban, namun jika banyak dukungan di sekitar kita seperti teman-teman yang baik, pembimbing yang “kita” banget itu juga merupakan salah satu rezeki yang tiada terkira. 😀

Bismillah saja ya. Setelah mantap poin 1 maka selanjutnya tinggal fighting, fghting dan fighting. Sukses selalu semuanya.

@baitti jannati, sore, hujan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.