Pengalaman Masuk ke Jepang di Masa Pandemi

Assalamualaikum, Jepang! Alhamdulillah, akhirnya kaki ini menginjakkan kaki juga di tanah Jepang. Ini adalah jadwal terakhir setelah 3 kali perubahan jadwal keberangkatan. Pertama saat 7 Desember, waktu itu varian Omicron dikabarkan masuk, dan sehingga 30 November 2021 Jepang langsung gerak cepat menutup border kembali. Selama tahun 2021, Jepang membukan border hanya di sekitar bulan November, itu pun tidak berlangsung lama, mungkin kurang lebih 3 minggu. Iya, Jepang sangat ketat sekali dalam hal ini, sekalinya masuk, aturannya berlapis. Di sisi yang lain saya bersyukur, itu artinya, saya masih bisa bersama dengan keluarga terutama anak yang masih belum genap 2 tahun. Meski berhasil proses sapih N lebih cepat, tapi rasanya sungguh berat meninggalkannya, sehingga dengan demikian saya masih punya waktu bersamanya lebih banyak dan lebih banyak menyiapkan mental saya. Emak-emak can relate, ya 🙂

Hingga akhirnya pengumuman new entry sudah diberlakukan mulai Maret 2022. Saya diminta untuk harus sampai di Jepang satu minggu sebelum 30 Maret 2022, sekitar 24 Maret 2022. Saat itu awal-awal Maret berita tersebut masuk ke email saya. Terlalu mepet sih, karena saya masih harus mengurus VISA kedua saya, karena VISA pertama yang saya urus bulan Oktober 2021 sudah expired (bisa dibaca di sini). Jadi saya hanya punya waktu 2 minggu untuk keberangkatan ke luar negeri pertama kali kembali setelah melahirkan dan kali ini dalam jangka waktu yang lebih lama (2-3 tahun), InsyaAllah. Saya sampe drop sakit semingguan karena memang banyak sekali yang diurus dan yang dipikirkan sebelum keberangkatan. Kalau jadwal pertama dulu karena mental saya yang belum siap betul, kali ini fisik saya. Qadarullah, kembali saya diinfo kalau pemberangkatan diundur, kemungkinan sekitar awal April (tanggal 4) karena jadwal keberangkatan akhir Maret itu full booked. Alhamdulillah, saya sedikit lega, extend beberapa hari cukup mengurangi beban saya dan menyiapkan kondisi fisik dengan lebih baik. Hingga akhirnya saya mendapatkan e-ticket untuk berangkat tanggal 9 April 2021. MasyaAllah. Alhamdulillah.

Oke langsung saja ya, setelah preambule yang lumayan panjang hehe, saya akan berbagi pengalaman saya mulai dari berangkat hingga tiba di Okayama. Ini pertama kali saya ke Jepang, ya pengalaman pertama menginjakkan kaki di negara Jepang, negara ke-19 yang saya kunjungi. Jadi, sebenarnya saya masih belum memiliki pengalaman sama sekali ke Jepang, apalagi Nihongo 😀 #harapmaklum.

Yang perlu dipersiapkan sebelum keberangkatan

  1. Koper lah ya tentunya 😀 diiisi sesuai kebutuhannya selama studi beserta printilan-printilannya.
  2. Sertifikat vaksin. Buat jaga-jaga sekalian diprint atau disimpan softcopynya.
  3. Aplikasi MySOS. Selengkapnya di artikel ini ya.
  4. Hasil PCR. Hasil ini valid 72 jam sebelum keberangkatan. Oh iya, ada lembar khusus dari imigrasi Jepang untuk diisikan hasil PCR ini. Tolong teliti lagi ya nama, tanggal lahir dan nomor paspor pada form tersebut. Soalnya punya saya sempat kelebihan 1 digit paspor di lembar imigrasi itu dan baru menyadari pas di cek saat di bandara. Untung hasil lembar lab PCRnya nomor paspornya betul.
  5. Asuransi perjalanan (Saya pakai Allianz yang Superior TravelPro single). Ini dulu sesuai saran dari kampus untuk memakasi asuransi perjalanan.
  6. Paspor dan VISA
Hasil PCRnya diletakkan di sini ya, dan jangan lupa stempel basah lab-nya

Sabtu, 9 April 2022. Malang-Surabaya-Jakarta

Saya berangkat dari Malang jam 10.00 WIB naik grab offline langganan ke Juanda. Perjalanan ini memakan waktu 1 jam saja. Dalam perjalanan ke Juanda saya teringat kalau uang rupiah yang sudah saya tukarkan ke YEN ketinggalan! 😀 Tidak hanya itu, charger HP ketinggalan juga! 😀 Gini amat saking lamanya tidak melakukan travelling ke luar negeri selama pandemi. Alhamdulillah, masalah tersebut teratasi, ada yang meminjami uang dan setelah landing saya bisa menarik ATM tunai dengan rate yang cukup bagus (saya pakai Mandiri). 1 Yen = 118 rupiah, dengan tarif penarikan adalah 200 Yen, cuma 200 Yen di sini sudah bisa buat beli onigiri atau pisang cavendis 4 buah 😀 Charger bisa diakali menggunakan colokan universal dan mau gak mau beli kabelnya saja di bandara. Done! Boarding ke Jakarta sekitar sore dan sampai di Jakarta terminal 3 Soekarno Hatta pukul 17.15 WIB. Kemudian mengisi perut, telepon keluarga, dan drop bagasi pas mepet banget jam 20.30 an WIB 😀 Udah tuh maraton dalam bandara, ngos-ngosan. Alhamdulillah, 21.55 WIB take off. Bismillah.

Minggu, 10 April 2022. Prosedur di bandara (Landing di NARITA airport)

Sampai di Narita sekitar jam 7.15 JST (Japan Standard Time), kemudian mulailah segala prosedur yang mengular. Apa yang perlu kamu siapkan untuk masuk ke bandara ini?

Langkah pertama: Cek Data

  1. Aplikasi MySOS (biasanya International Office akan memberikan alurnya juga). Pastikan sudah hijau. Ini jalur fast track yang bisa memangkas proses antrian berjam-jam. Ini sudah boleh diisi 16 jam sebelum keberangkatan. Jika sudah mengisi Quisinoner dan Pledge nanti MySos warnanya masih merah. Setelah itu mengisi sertifikat vaksin, dan tunggu dulu sampai hasil review itu complete. Oh iya, ada jenis vaksin tertentu yang hanya diizinkan pemerintah Jepang untuk salah satu syarat bebas karantina ya (cek di sini). Saya vaksin 1 dan 2 Astra Zeneca dan vaksin 3 (booster) Moderna. Jika sudah complete maka aplikasi akan berubah menjadi warna kuning. Terakhir adalah mengisi hasil PCR yang diambil 72 jam sebelum keberangkatan, tunggu review, dan jika sudah complete maka sekarang sudah jadi HIJAU! Yay! 😀 Kalau sudah hijau, tunjukkan bagian QR codenya ya.
  2. Paspor. Ini mah wajib ya, kalau bisa bawa scannya juga, kalau perlu juga diprint. Ini buat emergency saja ya.
  3. Boarding Pass.

Pengecekan awal saat masuk itu siapkan 3 itu ya, nanti akan banyak petugas yang mengarahkan sesuai warna aplikasi MySOS kamu itu apa atau kamu malah belum menginstal aplikasi MySOS saat tiba di bandara. Yang jelas semua akan dilayani, hanya saja proses lama-tidaknya tergantung dari masing-masing kondisi. Intinya kalau mySOSnya sudah HIJAU sudah jauh lebih enak. Dari sini kita akan diberi selembar kertas. Kertas ini yang akan kita bawa di setiap proses.

Langkah kedua: Tes PCR

Tiga puluh menit sebelum tes ini tidak boleh makan dan minum. Antri panjang, tapi tidak lama sih. Dokumen atau berkas pada Langkah pertama dibawa ke bagian ini untuk dicek. Jadi itu dikasih tabung dan corong untuk nampung air liur dengan kadar ukuran tertentu. Nanti petugasnya akan ngecek kurang tidaknya.

Langkah ketiga: Screening aplikasi MySOS

Sembari berjalan menuju ke tahap selanjutnya yaitu menunggu hasil tes, kita diberhentikan oleh petugas, satu orang satu petugas untuk mengecek betul-betul aplikasi MySOS kita. Jadi petugas itu mengaktifkan permission: lokasi, kamera, dll, kemudian petugas tersebut membubuhkan check list atau catatan pada formnya. Setelah itu dokumen atau berkas lembaran tadi distempel sama petugas, yang artinya proses ini sudah selesai. Aplikasi MySOS ini masih akan aktif, sehari setelahnya kita diminta mengisi posisinya dimana dan besoknya itu kalau tidak salah ingat mengisi kuisioner.

Langkah keempat: Mendapat Nomor Antrian untuk Hasil Tes

Pada tahap ini, kita diminta untuk menunjukkan paspor, scan QR code aplikasi MySOS di mesin mereka, kemudian ditempellah nomor antrian itu di belakang paspor kita. Empat digit nomor dibelakang kertas yang ditempel di paspor kita itu adalah nomor antrian kita. Di sini rame sih, cuma prosesnya itu sat set wat wet, jadi ya cepet.

Langkah kelima: Duduk manis menunggu hasil tes

Setelha itu kita antri dan diberi tempat duduk yang sangat rapi penataannya. Bener-bener salut ini keren banget, jadi tiap kursi itu sudah ada nomornya, kita tinggal duduk sesuai dengan nomor yang ada di lembar “Health Card”. Selama menunggu ini, saya ke toilet sebentar, setelah selesai dari toilet, eh dipanggil. Cepat banget, padahal sudah siap mental kalau bakal nunggu lama di sini. Soalnya di grup bilang kalau prosesnya bisa memakan waktu 3-4 jam, belum kalau weekend. Sementara saya datang saat weekend 😀

Langkah keenam: Mengambil hasil tes

Udah was-was lah ya, hasilnya gimana, close contact atau enggak, karena hanya dua faktor itu yang saat ini menjadi penentu apakah akan karantina atau bebas karantina. Alhamdulillah, hasilnya bebas karantina. Jadi mau main dulu di Tokyo boleh, langsung ke tempat tujuan juga boleh 😀

Langkah terakhir: Seperti prosedur masuk bandara internasional pada umumnya

  1. Cek di bagian imigrasi. Ini ada kertas yang harus diisi, sebenarnya lebih cepat kalau misalnya sudah mengisikannya sejak mau landing di pesawat. Akan tetapi, saya kehabisan kertas tersebut, sehingga si pramugari Japan Airlines meminta saya untuk mengambilnya langsung nanti di bagian imigrasi.
  2. Langsung dapat Residence Card. Setelah itu, tanya jawab, dan langsung dapat residence card tapi tanpa alamat, untuk mengisi alamatnya harus ke city hall. Alamat kita di Jepang akan dibubuhkan di bagian belakang residence card kita. Oh ya, saya sempat ditanya punya CoE atau enggak, saya bilang gak ada 😀 Tapi sebenarnya di VISA kan sudah ada tulisannya Gov.Scholar, jadi tak masalah.
  3. Ambil bagasi. Di sini aku cukup kagum lho, karena koper itu sudah dirapikan, ditata rapi sama petugasnya, tanpa harus mengantri di conveyor belt. Jadi, mengambilnya juga mudah. Di sini sudah ada gukguk yang siap mencium koper-koper.
  4. Selesai deh. Alhamdulillah.

Keseluruhan proses di bandara ini tidak memakan waktu lama, 2 jam kurang lebih totalnya, ini sudah dengan mode: santai. Karena saya memutuskan langsung menuju Okayama, maka langkah selanjutnya yang saya lakukan adalah mengirim koper-koper besar saya dari bandara ke dormitory saya.

LUGGAGE DELIVERY SERVICE di bandara Narita

  • Letaknya dekat pintu keluar dan kelihatan banget.
  • Saya kirim koper besar 22 kg dan medium 19 kg dari Narita-Okayama kena biaya 4.940 yen. Ini tergantung besar dan beratnya koper serta daerah tujuan. Oleh karena itu, biaya ini akan berbeda satu orang dengan orang lainnya ya. Karena di dormitory saya maunya cuma nerima 2 pieces koper untuk hasil pengiriman, maka saya siapkan 2 koper yang dikirim itu.
  • Koper datang dengan selamat ke dorm saya sore hari keesokan harinya, jadi sekitar seharian lah proses pengirimannya. Cepet juga kan ya, biar tidak rempong bawa heavy belongings dan boyok bisa selamat kan ya 😀

Narita Airport-Tokyo Station-Okayama

Setelah selesai proses pengiriman koper ini, jam 11.00 JST sudah bisa keluar dari bandara. Di bandara ini saya juga ambil uang di ATM, seperti yang saya ceritakan sebelumnya, uang yen saya kan ketinggalan :D. Setelah ambil uang di ATM, pesan shuttle bus ke Tokyo Station. Harganya 1.300 yen dengan durasi perjalanan sekitar 1 jam. Setelah sampai Tokyo station, sempat mampir ke minimarket buat beli-beli cemilan dan air minum, kemudian lanjut pesan tiket Shinkansen. Jadi, jadwal shinkansen ini enaknya fleksibel ya, mau datang jam berapa saja setiap 15 menitan sekali kayaknya ada lho. Harganya wow sih ya, saya dari Narita ke Okayama sekitar 17.000 yen. Badan rasanya sudah remuk redam 😀 makanya pengen segera sampai Okayama dan ketemu kasur, karena perjalanan saya 24 jam dari Malang. Mau yang cepet dan sekalian saja capeknya. Sampai di Okayama sekitar 3,5 jam kemudian. Benar-benar seru perjalanan ini. Alhamdulillah, sampailah di kota pegunungan: Okayama.

Sampai di depan Tokyo Station
Suasana saat mau naik Shinkansen (kereta cepat Jepang)

Penutup

Kurang lebih seperti itu ya teman-teman pengalaman perjalanan saya dari Malang-Surabaya-Jakarta-Narita Airport-Tokyo Station-Okayama. Cukup melelahkan secara fisik, jadi pastikan dalam kondisi fisik yang kuat ya teman-teman. Semoga Allah membersamai selalu, sehingga banyak kemudahan selama perjalanan. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi teman-teman yang akan berangkat ke Jepang. Semoga sehat selalu dan lancar perjalanannya ya. Aamiin.

PS: Jika ada yang mau menambahi atau merevisi, feel free ya. Thank you!

See you!

Pemandangan saat naik shuttle bus

Leave a Reply

Your email address will not be published.